Manusia Dan Rempahan Nusantara

 

MANUSIA DAN REMPAHAN NUSANTARA
Oleh:
Diyan Setiyawati Towikromo (Direktur Program Phinisi Nusantara-Gallery & Education Heritage)

Menyeruput minuman berbahan dasar rempahan nusantara pada saat musim dingin sangatlah menyegarkan dan menghangatkan badan. Tak sulit untuk meraciknya karena bumi alam nusantara telah menyediakannya. Ya, rempah-rempah memang baik untuk kesehatan manusia, rempah diolah menjadi obat-obatan, bumbu penyedap masakan juga yang saya lakukan saat ini membuat racikan minuman dari rempahan nusantara yang berisi Cengkeh, Pala, Kayu Manis, Kapulaga dan Jahe dijamin rasanya segar dan nikmat. Rasa lelah karena aktivitas padat pun kembali fit.
Berbicara rempah-rempah, membangkitkan memory saya akan perjalanan panjang Negara Indonesia. Ya, dalam kajian saya, berawal dari rempahan Nusantara inilah peradaban Indonesia dimulai. Sejarah yang membanggakan sekaligus memilukan.
Sebagai anak bangsa, rasa syukur atas Karunia Tuhan Yang Maha Esa dengan hamparan kekayaan alam bumi Nusantara telah membawa kemasyhuran rempah-rempah Nusantara. Pada saat itu rempah-rempah menjadi salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Bahkan pada masa penjajahan, rempah-rempah khas Indonesia memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan emas.
Kejayaan rempah Nusantara pada masa lampau menjadi bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang kaya. Indonesia pernah menjadi juru kunci perdagangan maritim dunia dengan jalur rempah sebagai poros ekonomi global.
Di lain sisi, kekayaan rempah yang dimiliki Nusantara banyak menggiurkan bangsa lain untuk berburu dan menguasainya. Kenyataanya, rempah menjadi rebutan berbagai negara di dunia yang pada akhirnya berujung pada prilaku kolonialisme, monopoli dagang, dan eksploitasi alam (rempah), khususnya bangsa Eropa.
Diantara rempah Nusantara yang langgeng dikenal seperti pohon “Cengkeh” yang merupakan tanaman asli (endemik) asli Maluku yang banyak diincar penjajah. Sebab pada masa penjajahan, Cengkeh menjadi salah satu rempah terpopuler dan memiliki harga yang tinggi.
Dalam konteks kebudayaan, rempah diyakini para sejarawan akan nilai yang dibawa (value) dan menjadi gaya hidup (life style). Hasil pengkajian arkeologis menunjukkan bahwa rempah telah dimanfaatkan sejak zaman Romawi atau Mesir Kuno. Dalam masa itu, rempah-rempah adalah simbol eksotisme, kekayaan, prestise, dan sarat dengan kesakralan. Catatan kuno di Mesir, Tiongkok, Mesopotamia, India, Yunani, Romawi, serta Jazirah Arab, menunjukkan bahwa rempah-rempah mulanya hanya dipercaya sebagai Panacea (obat penyembuh) dari pada penyedap ras makanan. Hal ini diungkap oleh filsuf Theophrastus (sekitar 372 ± 287 M) bahwa rempah-rempah seperti lada masih banyak digunakan tabib dari pada juru masak. (Jack Turner, Sejarah Rempah Dari Erotisme Sampai Imperialisme, 2011:59). Selain Theophrastus, Hippocrates (460-377 SM) juga pernah menulis tentang rempah dan herbal termasuk safron, kayu manis, merica, mint, dan marjoram. Hippocrates menegaskan bahwa rempah harus mendapat perhatian penuh. Secara medis, rempah diolah menjadi obat-obatan herbal untuk pengobatan.
Rempah pun berkembang menurut kegunaannya menjadi penyedap rasa dan mengurangi bau tidak sedap dari makanan. Abad ke-15 dikatakan sebagai “abad rempah-rempah”. Apabila pada abad-abad sebelumnya rempah-rempah kerap disandingkan sebagai bahan medis, maka sejak abad ke-15 citranya bergeser sebagai penguat cita rasa hidangan di lingkungan kerajaan Eropa. Pada masa itu, mulai terbangun kesadaran membarui citra kelam makanan selama abad pertengahan yang tidak berselera. Seiring itu, buku-buku masak mulai bermunculan di Eropa. (Freedman, Spices Land From the Spring To The Fall of Spices Glory atau Negeri Rempah-Rempah Dari Masa Bersemi Hingga Gugurnya Rempah-Rempah, 2008: 19-20).
Dalam upaya mengenalkan rempahan Nusantara pada dunia. Pada ribuan tahun yang silam, nenek moyang kita telah melakukan perdagangan rempah (masa kerajaan dan kesultanan) di Nusantara dan mancanegara melalui transportasi kemaritiman tradisional yakni kapal kayu Phinisi Nusantara, menjelajahi dunia dan berhasil menjalin hubungan antarpulau, ‎suku, bangsa dengan membawa hasil alam khas, seperti Cengkeh‎, Lada, Kayu Manis, Pala dan Cendana untuk ‎kebutuhan ekonomi atau pun membangun persahabatan.
Mereka berdagang ke ‎Tiongkok, India, Asia Selatan, Asia Barat, hingga Afrika Timur. Juga dari jalur rempah tersebut, banyak sejarawan berpretensi adanya asimilasi budaya yang terbentuk di setiap persinggahannya. Hingga pada akhirnya, jalur rempah inilah yang kemudian disebut sebagai penghubung ‎Nusantara dengan dunia melalui berbagai titik atau simpul peradaban. Berawal dari sini pula, negeri Nusantara yang khas dengan kekayaan rempah-rempah telah memikat perhatian para pedagang rempah ulung dunia pada masa itu.
Anthony D. Smith (National Identity atau Identitas Nasional, 1991:14), misalnya mengatakan bahwa rempah sebagai identitas keIndonesiaan yang kerap merujuk pada kawasan bersejarah (an historic territory) serta mitos bersama, dan ingatan-ingatan historis (common myth and historical memories). Hingga abad ke-18, Nusantara merupakan kawasan bersejarah yang menyimpan banyak mitos terkait dengan jalur rempah. Jalur ini menjadikan Nusantara sebagai emporium global di mana bangsa-bangsa dari berbagai penjuru dunia yang semula hanya membayangkan mitos surga rempah-rempah, lantas melakukan aktivitas jelajah bahari untuk mencapai surga rempah itu berada.
Salah satu hal yang melatarbelakangi bangsa Eropa ramai-ramai datang ke Indonesia adalah rempah-rempah. Pada zaman itu bangsa Eropa datang ke Nusantara dalam misi penjelajahan untuk menemukan dunia baru.
Adapun bangsa Barat atau Eropa yang datang ke Indonesia yaitu Portugis, Spanyol, dan Belanda. Saat itu, rempah-rempah menjadi komoditas yang berharga dan paling dicari oleh bangsa Eropa. Bahkan, seperti yang sudah sejarah katakan, jika harga rempah-rempah bisa melebihi harga logam mulia.
Bangsa-bangsa ini datang dengan latar belakang tertentu, hingga menyebabkan penjajahan terhadap bangsa Indonesia.
Awalnya mereka datang dengan membawa misi yang disebut 3G yaitu Gold, Glory, Gospel. Kondisi alam yang beriklim tropis di Indonesia membuat hampir semua tanaman dapat tumbuh subur, termasuk juga tumbuhan rempah. Sedangkan alam yang berada di wilayah Eropa cenderung dingin yang membuat beberapa tanaman tidak dapat tumbuh.
Hal inilah yang membuat bangsa barat berdatangan setelah mengetahui di bumi Nusantara (Indonesia) kaya akan rempah. Padahal, saat itu kebutuhan akan rempah terus bertambah, sementara persediaan rempah di negara-negara Eropa terbatas. Dengan mengetahui kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, hasrat mereka untuk memiliki lebih jadi muncul, sehingga ada keinginan bangsa Eropa menguasai wilayah Nusantara.
Dan terjadilah penjajahan yang merugikan bangsa Indonesia selama ratusan tahun. Selain bertujuan untuk menguasai kekayaan alam Indonesia, bangsa-bangsa Eropa datang dengan motivasi Imperialisme Kuno.
Imperialisme adalah sistem politik yang bertujuan menjajah negara lain untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan lebih besar. Imperialisme dilakukan bangsa Barat terhadap bangsa lain untuk mendapatkan keuntungan berupa rempah dan wilayah, pada masa penjajahan.
Imperialisme ini mempunyai dua bentuk yang berbeda, yaitu secara kuno dan modern. Imperialisme kuno (ancient imperialism) adalah imperialisme yang berkembang pada masa sebelum Revolusi Industri dengan semboyan 3G.
Belanda akhirnya menyusul Portugis dan berhasil merebut Nusantara. Nusantara di genggaman bangsa Belanda, rempah-rempah menjadi komoditas ulung dalam monopoli perdagangan internasional. Belanda juga membentuk sebuah kongsi dagang yang bertujuan untuk memonopoli perdagangan di Asia dengan nama “Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)”.
Pasca kemerdekaan, pemerintah Belanda melakukan blokade ekonomi sehingga perdagangan nasional dan internasional terhenti, termasuk jalur perdagangan rempah yang berdampak krisis keuangan pada pemerintahan Republik Indonesia. Pada masa ini, lalu lintas perdagangan Internasional rempah dan hasil bumi lainnya dari Nusantara ke mancanegara mengalami keterpurukan. Akibatnya, pemerintah Indonesia saat itu harus disibukkan untuk menata kembali perekonomian dalam negeri.
Sejarah telah menunjukkan pada kita, bahwa pada masa lalu produk rempah Nusantara telah memiliki merk tersendiri di pasar rempah global. Lebih-lebih, Indonesia memiliki gelar “Ibu Rempah Dunia” karena perannya sebagai produsen utama dari beberapa komoditas rempah. Apalagi, Maluku telah diakui sebagai daerah asal dari Cengkeh dan Lada yang saat ini telah berkembang di berbagai negara. Ya, karena sebelum masa penjajahan, Maluku menjadi poros perdagangan rempah dunia dengan Cengkeh dan Pala sebagai barang dagangan utama. Hal ini membuat Maluku dijuluki sebagai “Kepulauan Rempah”.
Karenanya, jalur rempah menyebabkan berkembangnya beragamnya pengetahuan dan kebudayaan yang bukan saja menjadi warisan bagi Indonesia namun juga warisan bagi dunia karena posisi geopolitik dan geoekonominya yang sangat strategis yakni terletak di antara dua benua dan samudra, Indonesia merupakan “global meeting point” dan sekaligus “global melting point”. Karunia berkat rempah maka Nusantara menjadi tempat bertemunya manusia dari berbagai belahan dunia dan menjadi wilayah persemaian dan silang budaya yang mempertemukan berbagai ilmu pengetahuan, agama, bahasa, estetika, hingga adat kebiasaan.
Jalur perdagangan rempah-rempah melalui laut inilah yang menjadi sarana bagi pertukaran antar budaya yang berkontribusi penting dalam membentuk peradaban dunia.
Maka menghidupkan gerak ekonomi di sekitaran jalur rempah adalah aksi nyata generasi bangsa Indonesia yang cinta pada tanah airnya, misalkan seperti di Provinsi DKI Jakarta, maka jalur rempahnya yakni di kawasan sunda kelapa heritage, kita akan bangun pegiat-pegiat UMKM-UMKM untuk mengembangkan industri kreatif seperti kriya dan fashion dengan motif dan bahan pewarna alami dari rempah. Selain itu, kita akan melakukan pengembangan dunia gastronomi yang menawarkan makanan dan minuman sehat berbasis rempah untuk meningkatkan daya tahan tubuh, dan ini adalah momentum yang tepat karena kita akan memasuki era Indonesia Emas 2045.
Salam dan semangat selalu untuk generasi muda Indonesia, siap hadapi Indonesia Emas 2045.

Baca Juga  Tokoh Aktivis 98 Trisakti, Dukung "Gerakan Nasional Pelatihan Sertifikasi K3 TKBM" Untuk Kesejahteraan Buruh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *