PELABUHAN BERKAWAN DENGAN KECELAKAAN KERJA ? Keselamatan Pekerja Harus Menjadi Prioritas Utama, Bukan Sekadar Slogan

PELABUHAN BERKAWAN DENGAN KECELAKAAN KERJA ?

Keselamatan Pekerja Harus Menjadi Prioritas Utama, Bukan Sekadar Slogan

 

Jakarta, 15 Juni 2026, TKBM News – Tingginya aktivitas bongkar muat di berbagai pelabuhan Indonesia masih diiringi oleh tingginya potensi kecelakaan kerja yang mengancam keselamatan para pekerja pelabuhan. Kondisi ini menjadi perhatian serius berbagai kalangan, khususnya para pekerja, pelaku usaha, operator pelabuhan, dan pemerhati keselamatan kerja sektor maritim.

Presidium Nasional Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia, Subhan Hadil, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat SP TKBM Indonesia, menegaskan bahwa sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan dunia kepelabuhanan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan kerja di pelabuhan Indonesia.

Menurutnya, masih terjadinya berbagai insiden dan kecelakaan kerja menunjukkan bahwa budaya keselamatan kerja belum sepenuhnya menjadi prioritas utama di lingkungan pelabuhan.

“Kita harus jujur mengakui bahwa hingga hari ini masih banyak pelabuhan yang hidup berdampingan dengan risiko kecelakaan kerja. Bahkan dalam beberapa kasus, keselamatan pekerja masih dianggap sebagai pelengkap administrasi, bukan sebagai kebutuhan utama operasional. Padahal tidak ada muatan, tidak ada keuntungan, dan tidak ada target bongkar muat yang lebih berharga daripada nyawa manusia,” tegas Subhan Hadil.

Pelabuhan Modern Harus Mengutamakan Keselamatan Pekerja

Subhan menjelaskan bahwa pelabuhan merupakan salah satu sektor kerja dengan tingkat risiko tinggi. Aktivitas bongkar muat yang melibatkan alat berat, crane, forklift, reach stacker, kendaraan logistik, muatan berbahaya, serta mobilitas pekerja yang tinggi membutuhkan standar keselamatan yang sangat ketat.

Menurutnya, pelabuhan modern tidak cukup hanya membangun dermaga baru, memperpanjang lapangan penumpukan, atau melakukan digitalisasi sistem operasional.

“Pelabuhan modern harus dibangun di atas fondasi keselamatan kerja. Tidak ada arti pelabuhan yang canggih apabila pekerjanya masih rentan mengalami kecelakaan kerja. Keselamatan pekerja harus menjadi indikator utama keberhasilan pengelolaan pelabuhan,” ujarnya.

Pendidikan dan Pelatihan Menjadi Kunci Pencegahan

Subhan menilai bahwa salah satu penyebab utama masih tingginya risiko kecelakaan kerja adalah belum meratanya pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi kompetensi bagi pekerja pelabuhan.

Baca Juga  Gerakan Nasional Peningkatan Skill Buruh Pelabuhan Raih Dukungan Luas

Masih banyak pekerja yang bekerja berdasarkan pengalaman lapangan tanpa dibekali pemahaman yang memadai mengenai:

  • Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
  • Identifikasi bahaya kerja.
  • Mitigasi risiko.
  • Penanganan keadaan darurat.
  • Pengoperasian alat secara aman.
  • Budaya kerja selamat.

Menurutnya, pencegahan kecelakaan tidak cukup hanya dengan pengadaan alat pelindung diri (APD), tetapi harus dimulai dari peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

“Kecelakaan kerja bukan hanya persoalan alat atau fasilitas. Faktor manusia memegang peranan yang sangat besar. Karena itu pendidikan dan pelatihan harus menjadi investasi utama dalam membangun pelabuhan yang aman dan produktif,” katanya.

Inisiator Berdirinya Badan Diklat TKBM Indonesia

Dalam kesempatan tersebut, Subhan Hadil juga menjelaskan pentingnya keberadaan Badan Diklat TKBM Indonesia – Badiklat Pekerja Indonesia sebagai salah satu instrumen strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sektor kepelabuhanan.

Subhan merupakan salah satu inisiator pendirian Badan Diklat TKBM Indonesia – Badiklat Pekerja Indonesia , pada tahun 2023 bersama para pengurus serikat pekerja, asosiasi pelaku usaha, operator pelabuhan, praktisi logistik, organisasi pekerja, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya yang memiliki kepedulian terhadap masa depan pekerja pelabuhan Indonesia.

Selain sebagai inisiator, Subhan Hadil juga dipercaya sebagai Pembina Badan Diklat TKBM Indonesia – Badiklat Pekerja Indonesia.

Menurutnya, lembaga tersebut lahir dari kesadaran bersama bahwa pembangunan pelabuhan tidak boleh hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga harus memperhatikan pembangunan kualitas manusianya.

“Kami melihat bahwa peningkatan kompetensi pekerja pelabuhan harus dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan. Karena itu bersama para pelaku usaha, operator pelabuhan, pekerja, akademisi, dan berbagai pihak lainnya, kami menggagas lahirnya Badan Diklat TKBM Indonesia – Badiklat Pekerja Indonesia sejak tahun 2023  sebagai wadah peningkatan kompetensi dan profesionalisme pekerja pelabuhan Indonesia,” jelasnya.

Mendorong Gerakan Nasional Keselamatan Kerja Pelabuhan

Lebih lanjut, Subhan menilai bahwa Indonesia membutuhkan sebuah gerakan nasional yang mampu mendorong perubahan budaya kerja di lingkungan pelabuhan.

Baca Juga  Cheap Necklace

Menurutnya, selama ini perhatian terhadap keselamatan kerja sering kali muncul setelah terjadi kecelakaan. Padahal yang jauh lebih penting adalah upaya pencegahan sebelum kecelakaan terjadi.

Karena itu, Badan Diklat TKBM Indonesia – Badiklat Pekerja Indonesia  terus mendorong berbagai program antara lain:

  • Pendidikan dan pelatihan kompetensi TKBM dan pekerja pelabuhan.
  • Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
  • Sertifikasi kompetensi pekerja pelabuhan.
  • Pelatihan operator alat pelabuhan.
  • Pelatihan foreman bongkar muat.
  • Pelatihan pengawas operasional pelabuhan.
  • Pelatihan tanggap darurat dan mitigasi risiko.
  • Penguatan budaya keselamatan kerja di lingkungan pelabuhan.

Kritik terhadap Kurangnya Perhatian pada Pengembangan SDM

Dalam pernyataannya, Subhan juga menyoroti masih adanya sebagian pihak yang belum memberikan perhatian serius terhadap pengembangan sumber daya manusia di sektor kepelabuhanan.

Menurutnya, tidak sedikit program peningkatan kompetensi pekerja yang berjalan lambat karena kurangnya dukungan kebijakan maupun anggaran.

“Kita tidak boleh hanya bangga membangun pelabuhan bertaraf internasional jika pekerjanya belum memperoleh pendidikan dan pelatihan yang memadai. Investasi terbesar bukan hanya alat dan infrastruktur, tetapi manusia yang menjalankan seluruh sistem tersebut,” tegasnya.

Ia berharap seluruh operator pelabuhan, perusahaan bongkar muat, regulator, pemerintah daerah, pemerintah pusat, BUMN, maupun pelaku usaha logistik dapat bersama-sama mendukung penguatan pendidikan dan pelatihan pekerja pelabuhan.

Menuju Pelabuhan Indonesia yang Selamat dan Profesional

Menutup pernyataannya, Subhan Hadil mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan keselamatan kerja sebagai budaya bersama.

Menurutnya, pelabuhan yang maju bukan hanya pelabuhan yang memiliki fasilitas modern, tetapi pelabuhan yang mampu menjamin setiap pekerja dapat bekerja dengan aman dan pulang ke rumah dalam keadaan selamat.

“Sudah saatnya kita mengakhiri anggapan bahwa kecelakaan kerja adalah hal biasa. Pelabuhan tidak boleh berkawan dengan kecelakaan kerja. Pelabuhan harus berkawan dengan keselamatan, kompetensi, disiplin, dan profesionalisme. Inilah semangat yang terus kami perjuangkan melalui SP TKBM Indonesia, Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia, dan Badan Diklat TKBM Indonesia – Badiklat Pekerja Indonesia.”

“Tidak Ada Muatan yang Lebih Berharga dari Nyawa Pekerja.”

“Keselamatan Kerja Bukan Biaya, Melainkan Investasi.”

“Pelabuhan Indonesia Maju Dimulai dari Pekerja yang Selamat, Kompeten, dan Sejahtera.”