BURUH PELABUHAN AKAN GELAR MAY DAY SENDIRI “DOA KAUM BURUH UNTUK KESELAMATAN BANGSA” Kembalikan Hari Buruh ke Tangan Buruh, Hentikan Politisasi

BURUH PELABUHAN AKAN GELAR MAY DAY SENDIRI

“DOA KAUM BURUH UNTUK KESELAMATAN BANGSA”

Kembalikan Hari Buruh ke Tangan Buruh, Hentikan Politisasi

 

Jakarta,27 April 2026, TKBM News Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional yang setiap tahun semakin besar dan terpusat di ruang-ruang publik ibu kota, sebuah sikap tegas, bahkan keras, datang dari jantung sektor strategis bangsa: buruh pelabuhan Indonesia.

Melalui konsolidasi nasional lintas wilayah dan lintas organisasi, Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia—yang terdiri dari berbagai serikat pekerja, serikat buruh, serta federasi serikat pekerja/buruh dengan basis utama di pelabuhan-pelabuhan di seluruh Indonesia—menyatakan secara resmi Buruh pelabuhan akan menggelar May Day sendiri.

Keputusan ini bukan sekadar pilihan teknis, melainkan pernyataan politik gerakan: upaya serius untuk mengembalikan marwah Hari Buruh ke tangan buruh, setelah dinilai semakin menjauh dari akar perjuangannya.

Pernyataan Sikap Tidak Bisa Ditawar

Subhan Hadil Presidium Nasional Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia bersama Presidium laiinya  menegaskan bahwa keputusan ini lahir dari kegelisahan kolektif buruh pelabuhan di seluruh Indonesia.

“May Day bukan milik kekuasaan, bukan milik partai, dan bukan panggung mobilisasi. May Day adalah milik buruh. Ketika maknanya mulai bergeser, maka buruh wajib mengambil kembali ruangnya,” tegas Subhan Hadil, Presidium Nasional Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia – Ketua Umum Pimpinan Pusat SP TKBM Indonesia-.

Dalam peringatan tahun ini, Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia akan menggelar kegiatan utama bertajuk “Doa Kaum Buruh untuk Keselamatan Bangsa”

Sebuah pendekatan yang menegaskan bahwa perjuangan buruh tidak hanya soal upah dan kerja, tetapi juga tentang arah moral bangsa, keselamatan sosial, dan masa depan Indonesia.

Sejarah yang Tidak Boleh Dihapus – Dari Chicago ke Dunia

Untuk memahami sikap ini, penting kembali pada akar sejarah.

Baca Juga  Gerakan Nasional Peningkatan Skill Buruh Pelabuhan Raih Dukungan Luas

May Day lahir dari perjuangan buruh industri di Chicago pada tahun 1886, ketika ribuan pekerja menuntut jam kerja delapan jam sehari—sebuah tuntutan yang pada masa itu dianggap radikal.

Perjuangan tersebut berujung pada tragedi Haymarket Affair, yang menewaskan banyak pihak dan berakhir dengan eksekusi aktivis buruh.

Dari tragedi itulah lahir kesadaran global bahwa keadilan bagi buruh tidak akan pernah hadir tanpa perjuangan.

Pada tahun 1889, Second International menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional—sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.

Namun hari ini, pertanyaan yang muncul adalah apakah semangat itu masih hidup, atau telah berubah menjadi seremoni kosong ?

Realitas Buruh Pelabuhan – Keringat, Risiko, dan Ketidakpastian

Di balik panggung besar peringatan May Day, buruh pelabuhan tetap bekerja dalam realitas yang keras dan sering tidak terlihat.

Sebagai tulang punggung logistik nasional, mereka memastikan arus barang berjalan tanpa henti. Namun kondisi di lapangan masih jauh dari ideal :

1. Risiko Kerja Tinggi (K3)

Lingkungan pelabuhan adalah salah satu sektor dengan tingkat risiko tinggi :

  • Alat berat
  • Muatan berbahaya
  • Tekanan waktu operasional

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bukan sekadar isu—tetapi soal nyawa.

2. Ketidakpastian Perlindungan

Masih terdapat buruh yang :

  • Tidak memiliki jaminan kerja stabil
  • Belum tercover jaminan sosial secara menyeluruh

3. Kesenjangan Kesejahteraan

Beban kerja fisik yang berat belum sepenuhnya sejalan dengan :

  • Upah layak
  • Perlindungan sosial
  • Kepastian masa depan

4. Ancaman Modernisasi Tanpa Transisi

Transformasi pelabuhan menuju sistem modern membawa risiko baru:

  • Otomatisasi
  • Digitalisasi
  • Efisiensi berbasis teknologi

Tanpa pelatihan dan sertifikasi, buruh berpotensi tersingkir.

Data dari Badan Pusat Statistik memperkuat fakta bahwa pekerja sektor padat karya masih berada dalam kondisi rentan.

Baca Juga  Kembalikan Fungsi BULOG Sebagai Lumbung Pangan Nasional

May Day di Ruang Publik Terbuka – Simbol atau Substansi ?

Peringatan May Day di berbagai ruang publik terbuka menunjukkan adanya pengakuan terhadap buruh. Namun di balik itu, buruh pelabuhan melihat fenomena yang tidak bisa diabaikan :

  • Kehadiran massa besar yang tidak seluruhnya berbasis kesadaran buruh
  • Mobilisasi kader oleh kepentingan tertentu
  • Dominasi simbol politik dalam ruang perjuangan

Situasi ini memunculkan kritik tajam Jika suara buruh tenggelam, maka May Day kehilangan makna.

Mengambil Kembali Kendali May Day 

Keputusan menggelar May Day sendiri adalah bentuk :

  • Perlawanan terhadap reduksi makna
  • Penegasan independensi gerakan
  • Rebut kembali ruang perjuangan buruh

Buruh pelabuhan tidak ingin menjadi :

  • Objek mobilisasi
  • Pelengkap keramaian
  • Alat legitimasi politik

Melainkan :

Subjek utama yang menentukan arah gerakan.

Politik Harus Tunduk pada Kepentingan Buruh

Buruh pelabuhan tidak menolak politik. Namun mereka menegaskan batas yang tegas

“Politik adalah alat perjuangan buruh. Bukan sebaliknya.”

Artinya :

  • Kehadiran harus menghasilkan kebijakan
  • Dukungan harus nyata, bukan simbolik
  • Komitmen harus terukur, bukan retorika

Tanpa itu, kehadiran hanyalah formalitas.

“Doa Kaum Buruh” Perlawanan yang Bermartabat

Melalui kegiatan “Doa Kaum Buruh untuk Keselamatan Bangsa”, buruh pelabuhan menghadirkan pendekatan baru :

  • Perjuangan yang berakar pada nilai moral
  • Kesadaran kolektif yang lebih dalam
  • Seruan untuk keselamatan bangsa secara luas

Ini adalah pesan bahwa buruh tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk Indonesia.

Ini Bukan Sekadar Sikap—Ini Arah Gerakan

Dari dermaga-dermaga di seluruh Indonesia, satu suara ditegaskan :

Buruh pelabuhan akan menggelar May Day sendiri.

Bukan untuk memisahkan diri.
Tetapi untuk meluruskan arah.

Bukan untuk menolak pihak lain.
Tetapi untuk memastikan buruh tetap menjadi pusat.

Karena sejarah telah mengajarkan satu hal:

Hak buruh tidak pernah diberikan. Ia diperjuangkan.

Dan hari ini, perjuangan itu kembali ditegaskan dari dermaga.

Baca Juga  Pertemuan Strategis Bahas Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kerja Sektor Bongkar Muat

“Kami bukan massa. Kami adalah kekuatan.”