KETIKA PELABUHAN MENYALA OLEH CAHAYA ILMU

 

Di ufuk timur pelabuhan, sebelum matahari membuka selimut fajar, ada doa-doa yang terucap lirih bersama denting rantai dan deru mesin. Tangan-tangan kasar itu bukan sekadar memindahkan barang; mereka sedang menjaga nadi negeri. Di antara kontainer, kapal, dan gelombang, buruh pelabuhan menjadi penjaga arus kehidupan bangsa.

Mereka bekerja dalam panas dan hujan. Dalam debu dan risiko. Dalam sunyi yang jarang disorot kamera. Namun dari tangan mereka, logistik bergerak. Dari tenaga mereka, ekonomi berdenyut. Dari kesabaran mereka, kebutuhan rakyat sampai ke pelosok.

Tetapi ada sesuatu yang lebih membuat gelisah sebagian borjuis dan kaum elit daripada teriakan demonstrasi atau tuntutan upah :

“Buruh pelabuhan yang sekolah dan menjadi sarjana.”

Ketakutan yang Tidak Pernah Diucapkan

Sejak lama, kritik terhadap struktur ekonomi modern- menunjukkan bagaimana hierarki dijaga agar tetap utuh: pemilik modal di atas, pekerja di bawah.

Dalam pola lama itu, buruh boleh kuat secara fisik, tetapi jangan terlalu tercerahkan secara intelektual. Buruh boleh terampil, tetapi jangan terlalu kritis. Buruh boleh patuh, tetapi jangan terlalu paham hukum.

Karena ketika buruh pelabuhan menjadi sarjana :

Ia memahami hak konstitusionalnya sebagai warga negara.

  • Ia mengerti hukum ketenagakerjaan.
  • Ia mampu membaca kontrak, laporan keuangan, dan skema distribusi keuntungan.
  • Ia berani menuntut transparansi.
  • Ia duduk sejajar dalam meja perundingan.

Dan kesetaraan itulah yang diam-diam ditakuti oleh struktur yang nyaman dengan ketimpangan.

Dimensi Spiritual: Ilmu sebagai Cahaya Martabat

Dalam perspektif spiritual, ilmu bukan sekadar alat mobilitas sosial. Ilmu adalah cahaya. Cahaya yang membebaskan manusia dari kebodohan struktural dan ketidakadilan sistemik.

Buruh yang belajar bukan sedang memberontak. Ia sedang memuliakan dirinya. Ia sedang mengangkat martabat keluarga. Ia sedang menjawab panggilan Ilahi yang memerintahkan manusia untuk membaca, memahami, dan berpikir.

Baca Juga  LAPOR PRESIDEN : Indikasi Ketidakpatuhan pada Kebijakan Negara, Banyak Perusahaan Operator Pelabuhan dan Bongkar Muat Tidak Mau Ikuti Kenaikan UMP 2025

Ketika seorang buruh pelabuhan pulang setelah 12 jam bekerja, dan anaknya bertanya,

“Ayah, aku bisa kuliah tidak?”

Pertanyaan itu adalah doa.

Dan doa itu tidak boleh dipatahkan oleh struktur sosial yang membatasi mimpi.

Apakah anak buruh ditakdirkan hanya mewarisi lelah ?

Ataukah ia berhak mewarisi kesempatan ?

Di sinilah persoalan menjadi bukan sekadar ekonomi, tetapi moral dan spiritual.

21 Mei: Kebangkitan dari Dermaga

Tanggal 21 Mei, yang juga diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, bukan sekadar seremoni sejarah. Ia adalah simbol kesadaran kolektif bahwa bangsa ini bangkit karena pendidikan dan keberanian berpikir.

Ketika pada 21 Mei 2025, bertepatan dengan Milad SP TKBM Indonesia di Jakarta, dicanangkan program “Buruh Sekolah & Buruh Sarjana”, itu bukan hanya agenda organisasi. Itu adalah deklarasi peradaban.

Bahwa buruh pelabuhan berhak :

  • Sekolah
  • Kuliah
  • Menguasai teknologi
  • Memahami hukum
  • Mengelola sistem, bukan sekadar menjalankan sistem

Kebangkitan nasional tidak lagi hanya lahir dari kampus-kampus elit. Ia kini lahir dari pelabuhan. Dari kelas pekerja. Dari tangan yang dulu hanya dikenal karena kekuatannya, kini juga karena pikirannya.

Gerakan Peradaban, Bukan Sekadar Perjuangan Upah

Gerakan ini bukan hanya tentang kenaikan nominal rupiah. Ini tentang perubahan kualitas manusia.

Sebuah gerakan peradaban yang membangun buruh yang :

  • Berpendidikan tinggi
  • Melek hukum
  • Melek digital
  • Berdaya saing global
  • Mampu memimpin, bukan hanya diperintah

Bangsa besar tidak dibangun oleh elit semata. Ia dibangun oleh rakyat yang tercerahkan. Dan rakyat tercerahkan lahir dari akses pendidikan yang adil.

Menggerakkan Empati Bangsa

Pertanyaannya bukan lagi :

“Apakah elit takut ?”

Pertanyaannya adalah :

“Apakah kita rela anak-anak buruh terhalang oleh tembok sosial yang tak kasat mata ?”

Baca Juga  Sertifikasi Buruh Pelabuhan Indonesia: Meningkatkan Profesionalisme melalui Badan Diklat TKBM Indonesia

Jika pelabuhan adalah jantung ekonomi nasional, maka buruh pelabuhan adalah darah yang mengalirkannya. Dan darah bangsa tidak boleh dibiarkan lemah, apalagi dibatasi agar tidak cerdas.

Buruh cerdas bukan ancaman bagi negara.

Buruh cerdas adalah penjaga demokrasi ekonomi.

Buruh cerdas adalah benteng keadilan sosial.

Ketika buruh bangkit melalui pendidikan, yang terangkat bukan hanya satu keluarga, yang terangkat adalah martabat bangsa.

Dan di situlah spiritualitas bertemu sosialisme :

bukan untuk membenci kelas lain,

tetapi untuk memastikan setiap manusia memiliki hak yang sama untuk tumbuh, berpikir, dan bermakna.

Karena cahaya ilmu di pelabuhan

adalah cahaya kebangkitan negeri.

 

 

Oleh : Ki Ageng Sambung Bhadra Nusantara