Misi Peradaban dari Tepi Dermaga Pelabuhan Indonesia : Buruh Sekolah & Buruh Sarjana

Misi Peradaban dari Tepi Dermaga Pelabuhan Indonesia – Buruh Sekolah & Buruh Sarjana

Tidak Menunggu Orang Peduli, Tapi Menjadi Penggerak Peradaban Baru

 

Jakarta, 18 Juli 2025, TKBM News – Dari tepi dermaga pelabuhan Indonesia, tempat roda ekonomi berputar, tempat peluh dan kerja keras bersatu dengan ombak dan matahari, lahirlah sebuah gagasan besar: Gerakan Buruh Sekolah & Buruh Sarjana. Ini bukan sekadar program pendidikan, tetapi sebuah misi peradaban.

Program ini bukan sekadar meminta – minta bantuan pendidikan. Ia adalah manifestasi kesadaran kolektif, bahwa buruh pelabuhan bukan hanya tulang punggung logistik nasional, tapi juga pemilik hak untuk tumbuh, belajar, dan memimpin. Di saat dunia memandang sebelah mata, buruh pelabuhan justru memilih untuk tidak menunggu orang lain peduli. Kami memilih untuk bergerak sendiri, menyalakan obor peradaban dari bawah.

Dilahirkan dari Semangat Milad SP TKBM INDONESIA

Gerakan ini resmi dicanangkan sebagai “Gerakan Peradaban” pada Milad SP TKBM INDONESIA bulan Mei 2025 di Jakarta.
Dalam pidatonya, Ketua Umum Pimpinan Pusat SP TKBM INDONESIA, Subhan Hadil, menyampaikan secara tegas bahwa era baru buruh pelabuhan telah dimulai — era di mana buruh bukan lagi sekadar tenaga kerja kasar, tetapi pelaku utama dalam transformasi sosial, ekonomi, dan pendidikan nasional.

Deklarasi ini bukan hanya simbolik. Ia menjadi tonggak sejarah bahwa dari dermaga pelabuhan Indonesia, sebuah peradaban baru tengah dibangun: peradaban yang dimotori oleh buruh yang sadar, terdidik, dan bersatu.

Mengapa Sekolah? Mengapa Sarjana ?

Karena pengetahuan adalah kunci perubahan. Pendidikan bukan hak eksklusif elite. Ia milik siapa pun yang mau belajar – termasuk mereka yang memikul karung, menambatkan tali kapal, atau mencatat logistik tengah malam. Dengan pendidikan, buruh tidak hanya bicara hak normatif, tapi juga mampu menyusun kebijakan, merancang koperasi, mengelola logistik, bahkan menulis sejarahnya sendiri.

Baca Juga  Kppu menerima pengaduan Asosiasi agar Monopoli Peralatan Penanggulangan Tumpahan Minyak diberantas

Program Buruh Sekolah memberi kesempatan bagi buruh yang putus sekolah untuk menuntaskan pendidikan dasar dan menengah. Sementara Buruh Sarjana membuka jalan menuju pendidikan tinggi – hukum, ekonomi, teknik, manajemen pelabuhan, atau apa pun yang bisa memperkuat daya saing dan peran buruh di masa depan.

Misi Peradaban dari Dermaga

Kami sadar, bangsa besar tidak dibangun dari menara gading. Peradaban tidak tumbuh hanya dari universitas elite, tapi juga dari dermaga pelabuhan, pasar, dan desa. Dari ruang kecil tempat buruh belajar menulis ulang nasibnya. Inilah misi peradaban kami:

  • Menghapus keterbatasan akibat status sosial
  • Menegaskan bahwa pelabuhan bukan hanya tempat kerja, tapi pusat pembelajaran dan tumbuh bersama
  • Menciptakan generasi buruh terdidik, berintegritas, dan berdaya saing global
  • Membangun struktur sosial baru yang adil, berbasis gotong royong dan keberdayaan komunitas

Menjadi Penggerak, Bukan Penonton

Kami tidak menunggu belas kasihan. Kami tidak minta dikasihani. Kami tidak menunggu negara, LSM, atau lembaga donor. Kami bergerak. Kami belajar. Kami mengajar. Kami mendirikan kelas di sela aktivitas pelabuhan, mengumpulkan rupiah demi modul, mencari dosen yang peduli, dan mencetak ijazah bukan untuk pamer, tapi untuk mengubah.

Buruh bukan obyek pembangunan. Buruh adalah subyek peradaban.

Kereta Gerakan Peradaban telah bergerak dari Dermaga Pelabuhan Indonesia, terus melaju menuju Indonesia Emas dan Nusantara Baru. Tinggalkan mereka yang tidak peduli. Bangsa ini harus maju bersama, bukan tertahan oleh mereka yang enggan berubah.

Dan ketika sejarah menulis babak baru bangsa ini, akan tertulis bahwa dari pelabuhan, bangkitlah sekelompok buruh yang bukan hanya memindahkan barang, tapi juga memindahkan peradaban ke arah yang lebih adil, cerdas, dan manusiawi.