Wajah VOC Terkini di Indonesia “Strategi Global dan Peran Antek serta Demang Pengkhianat Bangsa”

Wajah VOC Terkini di Indonesia

“Strategi Global dan Peran Antek serta Demang Pengkhianat Bangsa”

 

 

VOC, atau Vereenigde Oostindische Compagnie, perusahaan dagang kolonial yang pernah menguasai hampir seluruh jalur perdagangan rempah dunia, kini telah bertransformasi menjadi kekuatan baru yang lebih modern dan tersembunyi dalam bentuk korporasi global. Meskipun tidak lagi eksis dalam bentuk yang sama seperti pada masa kolonial, strategi yang digunakan oleh VOC terus berlanjut, bahkan berkembang lebih canggih dengan dukungan dari korporasi internasional yang memiliki kepentingan besar dalam mengontrol sumber daya alam Indonesia, termasuk sektor pertanian dan hutan.

1. Transformasi VOC Dari Perusahaan Dagang ke Korporasi Global

VOC yang dulu dikenal sebagai entitas perdagangan Belanda yang mendominasi Indonesia, telah berkembang menjadi jaringan korporasi besar yang beroperasi di berbagai sektor. Dengan pergeseran zaman dan teknologi, VOC kini tidak lagi beroperasi langsung melalui kapal dan armada, tetapi melalui korporasi besar yang memiliki pengaruh global. Beberapa perusahaan multinasional yang memiliki hubungan kuat dengan negara-negara besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa adalah penerus strategi ekspansionis VOC.

Perusahaan-perusahaan ini memiliki modal yang sangat besar dan kekuatan finansial yang memungkinkan mereka untuk mempengaruhi kebijakan ekonomi dan politik di Indonesia. Mereka beroperasi di banyak sektor, mulai dari sektor pertambangan, energi, perkebunan, hingga infrastruktur. Tujuan utama mereka adalah menguasai dan mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia untuk kepentingan ekonomi negara mereka, sementara merusak potensi ekonomi Indonesia itu sendiri.

2. Menghancurkan Kekuatan Potensi Pertanian dan Perdagangan Indonesia

Salah satu tujuan utama VOC dulu adalah mengendalikan perdagangan rempah-rempah yang merupakan “emas hijau” Indonesia pada masa kolonial. Saat ini, meskipun Indonesia memiliki potensi pertanian yang sangat besar, mulai dari kelapa sawit, kopi, karet, hingga hasil pertanian lainnya, banyak perusahaan asing yang menguasai sektor-sektor ini. Mereka bukan hanya mengekspor hasil pertanian Indonesia, tetapi juga menggunakan metode yang merusak lingkungan untuk mendapatkan hasil maksimal.

Baca Juga  Ing Ngarsa Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani – IKA ISMEI Penjaga Ekonomi Nusantara

Dengan eksploitasi besar-besaran terhadap lahan pertanian dan hutan, banyak korporasi asing ini menghancurkan ekosistem yang sangat penting untuk keberlanjutan pertanian Indonesia. Pembukaan lahan secara besar-besaran untuk perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan industri lainnya telah menghilangkan potensi tanah yang subur, yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Di sisi lain, kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah seringkali hanya menguntungkan segelintir orang yang terkait dengan kepentingan global ini, sementara rakyat Indonesia yang lebih luas dirugikan.

3. Peran Antek dan Demang Pengkhianat Bangsa

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam proses ini, banyak pihak-pihak dalam negeri yang berperan sebagai antek-antek dari kepentingan global ini. Mereka adalah para elit politik, pengusaha, dan pejabat yang lebih mengutamakan keuntungan pribadi dan kelompok daripada kepentingan bangsa. Dalam sejarah VOC, peran pengkhianat seperti “Demang” atau para pemimpin lokal yang bersedia bekerja sama dengan penjajah demi kepentingan pribadi atau golongan sudah terbukti ada.

Di era modern ini, antek-antek tersebut masih ada, tetapi mereka hadir dalam bentuk yang lebih tersembunyi. Mereka bisa jadi para pejabat yang memfasilitasi perjanjian investasi asing yang merugikan Indonesia, atau pengusaha yang lebih mengutamakan keuntungan dari kerjasama dengan korporasi asing daripada kesejahteraan rakyat Indonesia. Dengan demikian, mereka berperan dalam menghancurkan kekuatan ekonomi Indonesia, merusak tanah air, dan memperparah ketergantungan Indonesia terhadap negara-negara besar.

4. Strategi Global untuk Menghambat Kebangkitan Ekonomi Indonesia

Strategi global untuk mengecilkan kemampuan Indonesia tidak hanya terbatas pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga pada upaya-upaya untuk mempengaruhi sektor-sektor lain yang krusial bagi ekonomi nasional. Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor kreatif, teknologi, dan manufaktur, namun negara-negara besar dengan korporasi multinasional yang mendominasi dunia bisnis berusaha membatasi potensi tersebut.

Baca Juga  LBH TKBM Indonesia Minta Presiden dan DPR RI Segera Wujudkan UU TKBM dan Dewan Nasional Bongkar Muat Indonesia

Beberapa strategi yang mereka lakukan antara lain adalah memblokir akses pasar bagi produk-produk Indonesia yang berpotensi bersaing di pasar global, menekan kebijakan perdagangan yang adil, dan menciptakan ketergantungan terhadap teknologi atau produk luar negeri. Selain itu, korporasi-korporasi besar ini sering berusaha mendikte kebijakan pemerintah Indonesia untuk melayani kepentingan mereka, yang justru merugikan perkembangan sektor domestik.

5. Menghadapi Ancaman VOC Terkini

VOC tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya bertransformasi. Dengan kekuatan dana yang besar dan pengaruh yang luas, korporasi multinasional yang mewakili kepentingan negara-negara besar kini menguasai sumber daya alam dan ekonomi Indonesia. Mereka terus berusaha mengecilkan potensi pertanian, perdagangan, dan kreativitas bangsa ini untuk memastikan bahwa Indonesia tidak kembali bangkit sebagai kekuatan ekonomi yang besar di dunia.

Penting bagi Indonesia untuk menyadari ancaman ini dan mulai mengambil langkah-langkah untuk melindungi kedaulatan ekonomi dan sumber daya alamnya. Hal ini membutuhkan komitmen dari pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat, mengembangkan industri dalam negeri, dan membatasi dominasi korporasi asing yang merusak. Sebuah perjuangan panjang untuk meraih kemerdekaan ekonomi sejati, dan menjaga warisan kekayaan alam serta kekuatan perdagangan Indonesia sebagai raja rempah dunia.

oleh : Matutu Nusantara Institute