Pelabuhan Ekspor-Impor Terbesar di Indonesia dalam Kendali Asing – Hutchison Ports Holdimg

Pelabuhan Ekspor-Impor Terbesar di Indonesia dalam Kendali Asing – Hutchison Ports Holdimg.

 

Jakarta International Container Terminal (JICT) adalah pelabuhan peti kemas terbesar di Indonesia, berperan strategis dalam mendukung aktivitas ekspor-impor nasional. Terletak di Tanjung Priok, Jakarta, pelabuhan ini menangani lebih dari 50% lalu lintas kontainer internasional di Indonesia, menjadikannya salah satu infrastruktur logistik paling vital dalam rantai pasok global. Namun, kepemilikan dan pengelolaan JICT telah lama menjadi sorotan karena keterlibatan Hutchison Ports, perusahaan pelabuhan global asal Hong Kong yang dianggap memiliki hubungan erat dengan kepentingan ekonomi China.

Kendali Hutchison Ports di JICT
Hutchison Ports menguasai 51% saham JICT melalui kontrak konsesi yang awalnya ditandatangani pada tahun 1999 dengan Pelindo II (sekarang IPC – Indonesia Port Corporation). Kontrak ini memberi Hutchison kontrol signifikan atas operasional pelabuhan, mulai dari manajemen, pengelolaan infrastruktur, hingga teknologi. Pelindo II, sebagai pemegang saham minoritas (49%), hanya memiliki pengaruh terbatas dalam pengambilan keputusan strategis.

Dalam perpanjangan kontrak konsesi tahun 2015 hingga 2039, Hutchison Ports semakin mengokohkan kendalinya atas JICT. Hal ini menimbulkan kontroversi karena dianggap memperpanjang dominasi asing atas pelabuhan strategis Indonesia.

Hubungan Hutchison Ports dengan China

*Hutchison Ports merupakan bagian dari Hutchison Whampoa Limited, konglomerasi yang didirikan oleh Li Ka-Shing,* salah satu taipan terkaya di Asia. Meskipun berkantor pusat di Hong Kong, Hutchison Ports memiliki hubungan erat dengan kebijakan ekonomi dan investasi global China. Dalam konteks geopolitik, pengelolaan pelabuhan strategis seperti JICT oleh perusahaan dengan keterkaitan ekonomi China sering kali memicu kekhawatiran soal kedaulatan nasional dan kepentingan strategis negara.

Banyak pihak menilai _bahwa kontrol Hutchison Ports atas JICT sejalan dengan inisiatif Belt and Road Initiative (BRI) yang diusung pemerintah China. Proyek ini bertujuan memperluas pengaruh ekonomi dan logistik China melalui penguasaan jalur perdagangan utama, termasuk pelabuhan-pelabuhan strategis di berbagai negara._

Baca Juga  Indikasi Manipulasi Oknum Tertentu Hambat Sertifikasi dan Peningkatan Skill Buruh Pelabuhan

Dampak terhadap Indonesia

1. Keuntungan Operasional

Di bawah Hutchison Ports, JICT telah mengadopsi teknologi modern dan manajemen berbasis internasional, meningkatkan efisiensi dan kapasitas penanganan peti kemas.

Namun, sebagian keuntungan besar dari operasional JICT dialirkan kepada pemegang saham asing, meninggalkan pertanyaan tentang manfaat langsung bagi Indonesia.

2. Kritik terhadap Kedaulatan Ekonomi

Dominasi Hutchison Ports dianggap merugikan kedaulatan ekonomi Indonesia, terutama karena JICT merupakan gerbang utama perdagangan internasional.

Ketergantungan pada perusahaan asing dalam pengelolaan pelabuhan strategis ini dianggap melemahkan kontrol negara terhadap sektor logistik vital.

3. Minimnya Transparansi
Perpanjangan kontrak Hutchison Ports pada 2015 menuai kritik karena dilakukan tanpa tender terbuka dan dinilai menguntungkan pihak asing.

Transparansi dalam pengelolaan dan distribusi pendapatan JICT juga menjadi perhatian publik.

Langkah Strategis yang Dibutuhkan

Penguatan Peran Pelindo II:

Pemerintah perlu memastikan bahwa Pelindo II dapat berperan lebih aktif dalam pengelolaan JICT untuk melindungi kepentingan nasional.

*Evaluasi Kontrak Konsesi* : Evaluasi ulang perjanjian konsesi dengan Hutchison Ports perlu dilakukan untuk memastikan pengelolaan pelabuhan sesuai dengan visi pembangunan nasional.

Diversifikasi Infrastruktur Pelabuhan  : Pengembangan pelabuhan baru, seperti Pelabuhan Patimban di Subang, dapat mengurangi ketergantungan pada JICT dan memberikan alternatif bagi aktivitas ekspor-impor.

Kesimpulan

JICT memang berperan penting sebagai pelabuhan ekspor-impor terbesar di Indonesia, tetapi dominasi Hutchison Ports menimbulkan berbagai tantangan bagi kedaulatan dan kepentingan ekonomi nasional. Pemerintah perlu menyeimbangkan antara kerja sama dengan pihak asing dan perlindungan aset strategis demi memastikan pelabuhan seperti JICT benar-benar mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan dan berkeadilan.

oleh : Bumiputera Nusantara