Kebangkitan Nusantara : Dari Tapak Siring 1927, 500 Tahun Sunda Kelapa, hingga Seruan “Dari Utara Memanggil”

Kebangkitan Nusantara : Dari Tapak Siring 1927, 500 Tahun Sunda Kelapa, hingga Seruan “Dari Utara Memanggil”

 

 

Ilustrasi Penaklukan Sunda Kelapa

Jejak Awal : Tapak Siring 1927, Pertemuan yang Terlupakan

Pada November 1927, di Tapak Siring, Bali, tercatat sebuah pertemuan bersejarah yang jarang diangkat dalam literatur resmi. Para raja, sultan, dan bangsawan Nusantara dari berbagai wilayah berkumpul dalam suasana penuh kerahasiaan. Pertemuan itu bukan sekadar seremoni budaya, melainkan sebuah ikrar senyap: bahwa suatu saat, Nusantara harus kembali bersatu dalam satu payung peradaban.

Catatan intel kolonial menyebutkan dengan was-was bahwa para raja dan sultan Nusantara masih memiliki daya ikatan politik dan spiritual yang kuat. Tapak Siring adalah bukti bahwa meskipun kekuasaan formal mereka telah dipreteli, legitimasi darah dan sejarah tak bisa dihapus.

1945 : Amanah yang Terwujud, Republik Berdiri

Dua dekade setelah Tapak Siring, Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi momentum nyata. Para raja dan sultan berperan besar: ada yang memberikan dukungan politik, ada yang menyerahkan logistik, ada pula yang melepas pusaka demi menjaga republik yang baru lahir.

Namun, fakta penting yang kerap ditutupi adalah bahwa Republik Indonesia lahir bukan dari kevakuman, melainkan buah dari kesepakatan para raja dan bangsawan Nusantara jauh sebelum 1945. Proklamasi hanyalah puncak gunung es dari arus panjang kesadaran kolektif Nusantara.

500 Tahun Penaklukan Sunda Kelapa : Lahirnya Babak Baru

Tahun 2027 menandai 500 tahun penaklukan Sunda Kelapa (1527–2027) oleh Fatahillah, yang kemudian menamainya Jayakarta. Peristiwa ini bukan sekadar perebutan pelabuhan, melainkan simbol kemenangan Nusantara melawan imperialisme awal Eropa.

Dari Sunda Kelapa hingga Jakarta, laut selalu menjadi urat nadi peradaban Nusantara. Siapa yang menguasai laut dan pesisir, dialah yang menguasai sejarah. Karena itu, kebangkitan Nusantara sejatinya harus lahir dari laut, sebagaimana amanah leluhur.

Baca Juga  Pelabuhan Ekspor-Impor Terbesar di Indonesia dalam Kendali Asing - Hutchison Ports Holdimg

Menjelang 100 Tahun Republik : Seruan Kebangkitan

Kini kita berdiri di ambang sejarah. Tahun 2045 akan menjadi 100 tahun Republik Indonesia. Sejarah berulang: sebagaimana pada 1927 para raja dan sultan berkumpul di Tapak Siring, maka menjelang 100 tahun republik, para pewaris darah biru Nusantara kembali dipanggil.

Mereka yang lama tertutupi mulai muncul. Dari keraton Jawa, istana Bugis-Makassar, Kesultanan Ternate-Tidore, kerajaan-kerajaan Sumatra dan Bali—semuanya menyimpan dokumen pusaka, manuskrip, dan naskah perjanjian lama. Semua itu menjadi bukti bahwa republik ini lahir dari kesepakatan agung Nusantara.

Wangsit dan Nubuat Leluhur

  • Prabu Siliwangi berpesan: “Kelak bangsa ini akan menemukan jati dirinya dari pesisir, dari laut, tempat peradaban berawal.”
  • Prabu Jayabaya meramalkan: “Akan datang zaman Kalabendu, lalu berganti zaman keemasan ketika anak bangsa kembali ke pangkuan leluhur.”
  • Sunan Gunung Jati meninggalkan titipan: “Ingsun titip tajug lan fakir miskin” – sebuah amanah spiritual dan sosial.

Kini nubuat itu menggema kembali, seiring panggilan dari utara.

Dari Utara Memanggil

Arah utara dalam kosmologi Nusantara bukan sekadar titik mata angin. Utara adalah lambang arah bintang kutub, penunjuk jalan para pelaut, kompas bagi leluhur Nusantara yang menjelajah samudera hingga Afrika, Madagaskar, dan Pasifik.

Hari ini, dari utara terdengar suara panggilan kosmis :

  • Dari utara laut Jawa, tempat berdirinya pelabuhan agung dan pusat perdagangan Nusantara.
  • Dari utara Maluku, tempat rempah-rempah yang memanggil bangsa-bangsa dunia datang.
  • Dari utara bumi, bintang kutub memberi arah: bangsa ini harus kembali ke poros maritimnya.

Dari Utara Memanggil” adalah simbol bahwa pesisir dan laut menjadi panggung utama kebangkitan Nusantara. Sebagaimana wangsit Siliwangi, nubuat Jayabaya, dan pesan Sunan Gunung Jati, kebangkitan bangsa ini akan datang dari arah laut, dari utara, dari poros peradaban yang lama tertidur.

Baca Juga  BURUH PELABUHAN BANGKIT ! SP TKBM INDONESIA RESMIKAN PROGRAM “BURUH SEKOLAH & BURUH SARJANA” — GERAKAN PERADABAN MENYONGSONG INDONESIA EMAS 2045

Satu Komando, Satu Amanah

Momentum 500 tahun Sunda Kelapa dan 100 tahun Republik adalah titik temu sejarah. Saatnya para raja, sultan, dan pewaris sejati Nusantara berdiri bersama dalam satu komando peradaban.

Dari utara memanggil, dari pesisir menyala, dari darah leluhur mengalir amanah.
Kebangkitan Nusantara tidak bisa lagi ditunda.

Penutup : Suara dari Pesisir

Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah amanah yang diwariskan. Dan hari ini, suara itu terdengar lagi:

“Dari Utara Memanggil.”
Panggilan bagi para pewaris, raja, sultan, dan anak bangsa untuk kembali ke akar leluhur, mengibarkan panji kebangkitan, dan menegakkan peradaban Nusantara.

500 tahun Sunda Kelapa. 100 tahun Republik. Saatnya Nusantara bangkit!

 

oleh : Subhan Hadil –  Managing Director Matutu Institute dan Inisiator PINISI NUSANTARA  Gallery & Education Heritage