Nusantara Akan Memasuki Babak Baru: Setelah Gelap Lenyap, Cahaya Kebenaran Akan Menyinari Nusantara

Artikel, Beranda, Berita1057 Dilihat

Nusantara Akan Memasuki Babak Baru : Setelah Gelap Lenyap, Cahaya Kebenaran Akan Menyinari Nusantara

 

Jakarta, 30 Agustus 2025, TKBM News – Saat dalam tirakatan laku batin, Malam Jumat Kliwon, 1 Agustus 2025 datanglah sebuah petunjuk gaib, munculah sebuah sosok bercahaya yang penuh wibawa. Saat itu suasana sangat hening, tiba-tiba ada getaran halus ketika beliau menyampaikan sebuah pesan.

Beliau menyampaikan bahwa perubahan alam sudah tidak bisa di tahan atau dibendung lagi. Segala daya untuk menahan atau menghentikannya tak akan mampu menahan arus zaman yang sedang bergerak. “Sekalipun dibendung, Ia tetap akan bergerak dan tetap berjalan. Maka waspadalah, perhatikan tanda-tanda yang ada di langit. Di atas sana telah muncul para makhluk halus bergerak bersama bala tentaranya. Mereka bersama kawan-kawan mereka untuk menagih janji pada manusia serakah dan dzolim, serta pada manusia yang pernah terikat kontrak pesugihan dan ikatan gaib lainnya,” ucap beliau.

Dengan penuh rasa hormat, saya bertanya kepada beliau, bagaimana nasib manusia yang lainnya, karena makhluk halus tersebut sudah terlanjur bergerak dan menyebar luas ke berbagai tempat. Beliau menjawab dengan penuh keyakinan: “Para leluhur kini sudah menyatu, turut bergerak melindungi anak cucunya yang berbuat kebaikan. Meskipun leluhur banyak dan tersebar di berbagai daerah, hakikatnya mereka bersatu. Satu niat, satu tekad dan satu kekuatan untuk menjaga dan melindungi anak cucunya yang pilihan.”

Sosok bercahaya yang penuh wibawa tersebut kemudian mengungkapkan sebuah pesan agung: “Wahyu mahkota Nusantara telah diterima oleh Eyang Semar dan Prabu Brawijaya. Itu adalah pertanda bahwa perubahan besar semakin dekat. Alam buto, yaitu zaman kegelapan penuh dengan energi negatif akan lenyap, kemudian hadirnya alam satria yaitu zaman para ksatria penegak kebenaran.”

Baca Juga  Kondisi Bumi dan Alam Nusantara Tahun 2024 dan Prediksi Tahun 2027

Pesan tersebut menjadi penegas bahwa nusantara tengah memasuki babak baru. Pesan dari beliau bukan sekadar peringatan, tetapi juga pengharapan: bahwa kelak, ketika gelap lenyap, cahaya kebenaran akan menyinari Nusantara.

Makna Simbolik Sabda Leluhur

Alam Buto melambangkan segala bentuk kegelapan dalam kehidupan manusia: kerakusan, ketidakadilan, pengkhianatan, dan ikatan dengan energi negatif. Selama ini, alam buto menguasai banyak aspek kehidupan, sehingga manusia sering kehilangan arah.

Alam Satria adalah simbol datangnya zaman baru, di mana keadilan, kebenaran, dan keluhuran budi kembali ditegakkan. Satria bukan hanya tokoh ksatria secara fisik, tetapi juga gambaran manusia-manusia yang berhati bersih, jujur, dan setia pada kebenaran.

Wahyu Mahkota Nusantara yang diterima oleh Eyang Semar dan Prabu Brawijaya menandakan restu leluhur untuk menjaga, melindungi, dan membimbing nusantara menuju kebangkitan. Semar adalah lambang kerendahan hati dan kebijaksanaan, sementara Brawijaya adalah simbol kejayaan masa lampau. Bersatunya dua kekuatan ini menjadi pertanda bahwa masa transisi menuju zaman satria sudah dimulai.

Pertanda Ramalan Nusantara

Pesan tentang akan datangnya alam satria sejatinya selaras dengan apa yang pernah disampaikan oleh para leluhur Nusantara sejak berabad-abad lalu. Salah satunya adalah ramalan Prabu Jayabaya, Raja Kediri abad XII yang terkenal dengan ramalannya.

Prabu Jayabaya pernah meramalkan bahwa Nusantara akan melalui masa penuh kegelapan, yang disebutnya sebagai zaman edan. Dalam masa itu, manusia banyak yang meninggalkan budi pekerti, lebih mengutamakan harta, pangkat, dan nafsu. Dunia terasa kacau, manusia saling menjatuhkan, dan keadilan sulit ditemukan.

Namun beliau juga menyampaikan harapan: setelah zaman kegelapan itu, akan muncul Ratu Adil, seorang ksatria berhati suci, dekat dengan Tuhan Semesta Alam (mendapat ridha Ilahi). Ia akan membawa kedamaian dan menegakkan kembali keadilan di bumi Nusantara.

Baca Juga  BREAKING NEWS: KM Umsini Terbakar di Pelabuhan Makassar, Begini Ceritanya

Sirnanya Alam Buto, Hadirnya Alam Satria

Tentang sirnanya alam buto dan hadirnya alam satria, sejatinya adalah gema yang sama dengan ramalan Jayabaya. Buto melambangkan zaman edan penuh kegelapan, sementara satria adalah lambang kebangkitan ksatria adil yang akan menata kembali kehidupan.

Wahyu Mahkota Nusantara yang kini disebut telah diterima oleh Eyang Semar dan Prabu Brawijaya, bisa dimaknai sebagai pertanda bahwa leluhur Nusantara sudah menurunkan restu kepada anak cucu pilihan, yang kelak akan menjalankan peran sebagai satria pembawa kebenaran.

Semar, tokoh punakawan yang sederhana namun sejatinya adalah dewa bijaksana, melambangkan kerendahan hati, kebersahajaan, dan welas asih.

Prabu Brawijaya, simbol kejayaan Majapahit, melambangkan kebesaran Nusantara di masa lalu.

Bersatunya dua kekuatan ini adalah tanda bahwa kebijaksanaan dan kejayaan lama akan digabungkan kembali demi lahirnya tatanan baru.

Ramalan Leluhur Lainnya

Selain Prabu Jayabaya, leluhur Jawa lain seperti wejangan Sunan Kalijaga juga pernah menyinggung hal serupa: bahwa Nusantara akan melalui fase pembersihan besar – besaran, di mana kekuasaan materialistis dan keserakahan akan runtuh, digantikan oleh zaman penuh cahaya spiritual.

Bahkan dalam tradisi rakyat, muncul istilah “jaman kebak wirang, banjur jaman kebak rahayu” — setelah zaman penuh aib dan kehinaan, akan hadir zaman penuh keselamatan dan kebahagiaan.

Dengan demikian, setiap manusia Nusantara dipanggil untuk menyiapkan dirinya, membersihkan hati, melepaskan diri dari ikatan kegelapan, dan kembali pada laku spiritual yang selaras dengan ajaran leluhur. Hanya dengan begitu, kita bisa ikut menjadi bagian dari hadirnya zaman satria yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Alam Sudah Membuka Rahasianya

Waktu tidak bisa diputar kembali. Gelombang perubahan sudah berputar, dan siapa yang berani menolak arusnya akan tergerus. Alam sudah membuka rahasianya, bumi sudah bergetar, langit sudah memberi tanda. Manusia yang lengah (pecundang) akan terhempas, namun mereka yang sadar (pejuang) akan mendapat jalan keselamatan.

Baca Juga  Jejak Eyang Santri "Kanjeng Pangeran Djoyokusumo" dan Runtuhnya Hukum di Indonesia

Saya kemudian bertanya, “Apakah manusia mampu bertahan menghadapi semua ini?”

Beliau menjawab dengan sorot mata gaib yang dalam:
“Manusia akan diuji, bukan hanya dengan kekuatan fisik semata, tetapi dengan kekuatan batin. Siapa yang batinnya bersih, siapa yang masih menghormati leluhur dan siapa yang masih menjaga keseimbangan dengan alam, dialah yang akan dilindungi dan di selamatkan. Namun sebaliknya, bagi mereka yang serakah, berkhianat pada janji dan melupakan kearifan leluhur, akan menerima balasannya yang setimpal.”

Beliau melanjutkan,
“Alam buto memang kuat, tetapi cahaya satria jauh lebih kuat. Saat satria muncul, yang gelap akan lenyap, yang palsu akan terbakar, dan yang sejati akan tegak berdiri. Itulah masa yang akan engkau saksikan dan alami, di mana datangnya masa peralihan menuju zaman baru Nusantara.”

Saya pun terdiam, menyadari betapa besar makna pesat tersebut. Seakan seluruh rahasia jagad sudah dititipkan pada pesan itu: tentang janji leluhur, tentang ujian manusia, dan tentang kebangkitan cahaya kebenaran yang akan menutup tirai kegelapan.

(By : Ki Ageng Sambung Bhadra Nusantara)