Adab Kedudukannya di Atas Ilmu, Adab yang Luhur Dapat Menjadi Penerang Jalan Bagi Banyak Orang

Adab Kedudukannya di Atas Ilmu, Adab yang Luhur Dapat Menjadi Penerang Jalan Bagi Banyak Orang

Dalam dunia yang semakin modern, hiruk pikuk teknologi dan kecanggihan intelektual sering kali menenggelamkan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi peradaban bangsa. Di tengah derasnya arus informasi dan lautan teori yang mudah diakses oleh siapa pun, muncul satu pesan bijak yang menggetarkan hati banyak kalangan: “Setinggi-tingginya ilmu, masih tinggi adab. Karena adab kedudukannya di atas ilmu.”

Pernyataan ini bukan sekadar ungkapan indah, melainkan pengingat mendalam akan pentingnya tata krama, moralitas, dan kepekaan batin dalam mengarungi kehidupan. Ilmu yang tinggi tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan atau keangkuhan, sementara adab yang luhur bahkan tanpa banyak teori, bisa menjadi penerang jalan bagi banyak orang.

Manusia Terbaik Adalah yang Paling Bermanfaat

Sejalan dengan nilai itu, prinsip hidup yang mengakar dalam ajaran agama dan kearifan lokal pun kembali digaungkan: “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” Di era kompetisi dan individualisme, prinsip ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari jabatan, kekayaan, atau gelar, tetapi dari sejauh mana dirinya membawa manfaat bagi lingkungan, teman, saudara, dan masyarakat.

Tokoh-tokoh spiritual sejati tidak hadir untuk menonjolkan dirinya, melainkan untuk meneduhkan sekitarnya. Mereka menjadi teladan bukan karena pidato yang menggelegar, tetapi karena kehadirannya yang menyejukkan dan lakunya yang menenangkan. Seorang spiritual sejati adalah yang menjalankan kehidupan dengan tulus, menghidupi nilai-nilai ilahi bukan hanya dalam ibadah formal, tetapi dalam tutur kata, perbuatan, dan sikap hidup sehari-hari.

Spiritualitas Bukan Sekadar Teori, Tapi Laku

Dalam pandangan seorang spiritualis sejati, hidup bukan tentang menguasai banyak teori atau pandai berorasi tentang kebatinan. Sebab, teori bisa dipelajari oleh siapa pun, bahkan oleh anak-anak sekalipun. Namun laku batin—kesabaran, ketulusan, keikhlasan, dan ketundukan pada kehendak Ilahi—adalah sesuatu yang hanya bisa dicapai melalui perjalanan batin yang panjang, dengan tirakat, doa, dan pengorbanan batin yang tak kasat mata.

Baca Juga  LAPOR PRESIDEN : Indikasi Ketidakpatuhan pada Kebijakan Negara, Banyak Perusahaan Operator Pelabuhan dan Bongkar Muat Tidak Mau Ikuti Kenaikan UMP 2025

“Hidup seorang spiritual bukan cuma teori. Banyak anak-anak pun bisa teorinya, tapi praktek batin dan tingkah lakunya yang dipeluk dan dijalankan, itulah yang utama,” kata Mbah Slamet seorang tokoh spiritual dari pedalaman Batang – Jawa Tengah, yang lebih memilih hidup dalam kesederhanaan tapi penuh manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Ia menegaskan bahwa dalam dunia spiritual, bukanlah kemampuan berkata-kata yang menjadi tolok ukur, melainkan kejujuran hati, kebersihan pikiran, dan ketulusan tindakan. Dalam istilah Jawa disebut “nglakoni urip kanthi linuwih”, menjalani hidup dengan kelebihan spiritual, bukan dalam artian supranatural, melainkan kelebihan dalam kedalaman rasa dan kearifan laku.

Ucapan dan Perbuatan:  Cermin Kedalaman Batin

Banyak orang bisa berbicara indah tentang Tuhan Semesta Alam, cinta kasih, atau kebaikan. Tapi sedikit yang benar-benar mempraktikkan apa yang dikatakannya. Seorang spiritualis sejati adalah yang “ucapannya mencerminkan jiwanya, dan perbuatannya adalah cermin dari keyakinannya.” Dalam dirinya tidak ada jarak antara kata dan tindakan. Hidupnya bukan untuk dipuji, tapi untuk memberi. Ia hadir bukan untuk mencuri perhatian, tapi untuk memperkuat harapan.

“Spiritual bukan cuma bisa bicara atau hanya ngomong tok, tapi prakteknya yang nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan hati yang tulus dan pikiran yang bersih,” demikian disampaikan oleh Mbah Cakra Pamelang salah satu tokoh spiritual Pemalang – Jawa Tengah yang dikenal masyarakat sebagai sosok penyatu umat dari berbagai latar belakang.

Menjadi Saluran Kasih Sang Pencipta

Spiritualitas sejati adalah saat seseorang tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat perhatian publik, melainkan sebagai tempat saluran kasih dan rahmat dari Sang Pencipta. Dalam tahap ini, segala ucapan, tindakan, bahkan diamnya pun memiliki makna dan getaran. “Ucapan yang nyata itulah benar-benar sosok spiritualis yang sudah sampai ke penciptanya,” ungkap kang Seta Wasesa – Malang.

Baca Juga  Bumiputera Nusantara Serukan Konsolidasi Nasional untuk Nasionalisasi Pelabuhan di Indonesia  dari Kekuasaan Asing

Seta Wasesa menambahkan bagaimana seseorang yang telah sampai pada maqam spiritual tinggi, justru menjadi pribadi yang merendah, memeluk semua makhluk dengan kasih, dan menjauh dari segala bentuk pamer ataupun merasa diri suci. Mereka adalah penjaga harmoni semesta, penyambung doa-doa manusia kecil yang sering kali diabaikan, pungkasnya.

Saatnya Kembali ke Akar Luhur Bangsa

Di tengah gempuran gaya hidup instan, kegaduhan sosial, dan krisis moral, bangsa ini butuh lebih banyak sosok spiritualis sejati—mereka yang menebar kedamaian, menjaga adab, menghidupi ilmu, dan menjadi manfaat bagi semesta. Bukan sekadar tokoh agama atau pemuka adat, tetapi pribadi-pribadi yang dalam kesederhanaannya memancarkan cahaya kebijaksanaan dan keteladanan.

Karena sejatinya, “Spiritualitas bukan perkara seberapa banyak engkau tahu, tapi seberapa dalam engkau mencintai, memaafkan, memberi, dan membawa berkah bagi kehidupan.”

Nusantara Baru, Indonesia Maju

 

By: Ki Ageng Sambung Bhadra Nusantara