Ironi Budaya di Negeri Sendiri: Ketika Identitas Bangsa Terlupakan

Artikel, Beranda, Nusantara1727 Dilihat

Ironi Budaya di Negeri Sendiri: Ketika Identitas Bangsa Terlupakan

 

 

 

Jakarta, 4 April 2025, TKBM News, – Tidak bisa dipungkiri, budaya Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki tradisi, kesenian, bahasa, dan kearifan lokal yang unik. Bahkan, tak sedikit budaya kita yang mendapatkan pengakuan dunia, seperti batik yang diakui UNESCO, tari-tarian tradisional yang sering dipentaskan di panggung internasional, serta keris sebagai karya agung warisan leluhur Nusantara. Namun, sangat disayangkan, di tengah apresiasi dunia terhadap budaya kita, justru sebagian masyarakat Indonesia sendiri cenderung lebih mengidolakan budaya asing.

Fenomena ini menjadi ironi. Kita sering kali lebih bangga menggunakan produk luar negeri, mengikuti tren musik dan fashion dari luar, dan bahkan meniru gaya hidup yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kita. Padahal, budaya lokal tak kalah menarik, bahkan lebih bermakna karena merupakan bagian dari jati diri bangsa.

Budaya asing memang tidak sepenuhnya buruk. Dalam era globalisasi, keterbukaan terhadap budaya luar adalah hal yang wajar. Namun, bukan berarti kita harus melupakan atau bahkan meninggalkan budaya sendiri. Justru, keterbukaan itu seharusnya memperkaya pemahaman dan memperkuat kebanggaan terhadap budaya bangsa.

Sudah saatnya kita menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap budaya lokal. Ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana: mengenakan batik, mempelajari tarian tradisional, atau menyelami cerita-cerita rakyat. Pendidikan budaya juga harus diperkuat, tidak hanya sebagai formalitas di sekolah, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

*Menjadi Generasi yang Bangga dengan Budaya Sendiri*

Kita tidak bisa menutup mata bahwa arus globalisasi membawa dampak besar dalam kehidupan sehari-hari. Budaya asing dengan mudah masuk melalui media sosial, film, musik, dan internet. Anak-anak muda sekarang lebih mengenal budaya K-Pop daripada gamelan, lebih hafal lirik lagu barat daripada lagu daerah, dan lebih sering menggunakan istilah bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Ini menjadi tanda bahwa pengaruh budaya luar begitu kuat menyusup ke ruang-ruang pribadi masyarakat, terutama generasi muda.

Baca Juga  Mencapai Kejayaan Maritim : Menantikan "Seminar Internasional Pinisi Nusantara"

Sebenarnya, menyukai budaya asing bukanlah kesalahan. Dunia memang kini saling terhubung, dan keterbukaan terhadap budaya luar bisa menjadi bagian dari kemajuan. Namun yang menjadi masalah adalah ketika budaya asing dipuja-puja, sementara budaya sendiri justru dianggap kuno, ketinggalan zaman, atau bahkan memalukan. Inilah titik kritis yang harus segera disadari, kehilangan identitas budaya berarti kehilangan arah sebagai bangsa.

Budaya bukan hanya soal kesenian atau tradisi. Budaya adalah cermin jati diri. Ia adalah akar yang menyatukan kita sebagai bangsa Indonesia, yang meskipun terdiri dari berbagai suku, tetap satu dalam kebhinekaan. Ketika kita mulai mengabaikan budaya sendiri, kita perlahan-lahan kehilangan karakter bangsa. Generasi muda akan tumbuh tanpa tahu siapa dirinya dan dari mana asalnya.

Pemerintah memang memiliki peran penting dalam pelestarian budaya, seperti melalui pendidikan formal, festival budaya, atau pelestarian situs-situs bersejarah. Namun, tanggung jawab tidak hanya ada di tangan negara. Kita sebagai masyarakat juga memegang peran besar. Kita bisa mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Misalnya, orang tua bisa mengenalkan dongeng nusantara kepada anak-anak, sekolah bisa lebih menekankan nilai-nilai lokal dalam pembelajaran, dan komunitas bisa mengadakan kegiatan seni tradisional secara rutin.

Kita juga harus menciptakan ruang agar budaya lokal bisa beradaptasi dan bersaing di era modern. Budaya tidak harus kaku. Ia bisa berkembang dan dikemas dengan cara yang menarik, tanpa kehilangan nilai aslinya. Lihat saja bagaimana batik kini hadir dalam desain-desain fashion yang modern, atau bagaimana seni tari bisa dipadukan dengan teknologi panggung masa kini. Ini membuktikan bahwa budaya kita bisa tetap relevan dan diminati, tidak hanya oleh orang asing, tetapi juga oleh generasi muda sendiri.

Baca Juga  Pekerja Pelabuhan Siap Miliki Rumah Sendiri "Sosialisasi Perumahan Pekerja Sukses Digelar di Ciwandan, Banten"

Sebagai bangsa yang besar, kita seharusnya bangga dan menjaga kekayaan budaya yang kita miliki. Jangan sampai kita menjadi tamu di negeri sendiri, yang tidak lagi mengenali warisan leluhur. Jangan sampai kita sibuk mengagumi budaya luar, sementara budaya sendiri ditinggalkan dan dilupakan.

Mari kita jadikan budaya Indonesia sebagai identitas yang kita bawa dengan bangga, bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di mata dunia. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai dan menghormati budayanya sendiri.

Nusantara Baru, Indonesia Maju

By: Ki Ageng Sambung Bhadra Nusantara