Kolonialisme Gaya Baru

Kolonialisme Gaya Baru

oleh Ki Ageng Sambung Bhadra Nusantara

Kolonialisme gaya baru atau neo-kolonialisme merujuk pada bentuk dominasi atau pengaruh suatu negara terhadap negara lain tanpa melalui penaklukan atau penjajahan secara langsung, seperti yang terjadi pada era kolonialisme klasik.

Dalam konsep ini, negara yang berkuasa mempengaruhi atau mengontrol aspek-aspek penting dari negara lain, seperti ekonomi, politik, budaya, atau militer, melalui cara-cara yang lebih halus atau tidak terlihat secara langsung.

Kolonialisme gaya baru dapat dilihat dalam praktik-praktik seperti ketergantungan ekonomi melalui bantuan luar negeri yang mengikat, intervensi politik dengan mendukung rezim tertentu, atau dominasi budaya melalui media dan hiburan.

Neo-kolonialisme sering dianggap sebagai bentuk eksploitasi yang lebih modern di mana negara yang lebih kuat terus mendapatkan keuntungan dari negara yang lebih lemah, meskipun negara tersebut secara teknis telah merdeka.

*Tiga kekuatan besar yang masuk ke Indonesia dan sangat mempengaruhi kemunduran bangsa ini adalah:*

*Kekuatan Ekonomi dan Perdagangan:* Sejak zaman kolonial, Indonesia telah menjadi incaran kekuatan-kekuatan besar seperti VOC (Belanda) yang menguasai perdagangan rempah-rempah. Hingga kini, kekuatan ekonomi dan perdagangan internasional masih mempengaruhi Indonesia melalui investasi asing, penguasaan sumber daya alam, dan ketergantungan pada perdagangan global. Multinasional korporasi sering kali mempengaruhi kebijakan ekonomi negara dan memperkuat ketimpangan ekonomi.

*Kekuatan Keuangan:* Lembaga-lembaga keuangan global seperti IMF dan Bank Dunia memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan moneter dan fiskal Indonesia. Program restrukturisasi ekonomi yang dipaksakan oleh lembaga-lembaga ini di masa krisis keuangan, misalnya, memberikan dampak jangka panjang pada struktur ekonomi dan sosial negara, termasuk utang luar negeri yang besar dan ketergantungan pada bantuan internasional.

*Kekuatan Budaya dan Spiritual:* Masuknya agama-agama besar, seperti Islam, Kristen, dan Hindu-Buddha, membawa perubahan besar dalam budaya dan spiritualitas masyarakat Indonesia. Selain itu, pengaruh budaya negatif dari Barat, serta pengaruh spiritual dan esoterik dari Timur, turut membentuk pandangan hidup dan identitas bangsa Indonesia. Pengaruh ini bisa menggusur nilai-nilai lokal/tradisional yang sudah lama ada.

Baca Juga  Viva Yoga : KERIS harus jadi mesin bisnis ekonomi rakyat UMKM

Meski mereka berasal dari negara yang berbeda, kekuatan-kekuatan ini kadang bergerak sendiri dan kadang berkompromi atau bekerjasama untuk memaksimalkan pengaruh mereka di Indonesia, ironisnya lagi bekerja sama juga dengan para penghianat bangsa.

Kesadaran dan kebangkitan kolektif untuk melawan, merupakan suatu keharusan dalam perjuangan meraih kemerdekaan dan kedaulatan yang sejati. Sejarah membuktikan bahwa perubahan hanya terjadi ketika rakyat bersatu dan bangkit untuk melawan penindasan dan penghianatan.

By : Ki Ageng Sambung Bhadra Nusantara