Kembalikan Fungsi BULOG Sebagai Lumbung Pangan Nasional

Jakarta, 3 Maret 2025, TKBM News – Sejak pertama kalidibentuk, BULOG (Badan Urusan Logistik) telah melekat erat dengan sosok Bustanil Arifin, seorang Letnan Jenderal TNI yang dipercaya mengelola lembaga ini pada tahun 1973. Dibawah kepemimpinan Pak Bus, BULOG berhasil mewujudkan cita-cita Presiden Soeharto untuk mencapai swasembada pangan dalam kurun waktu 20 tahun. Pengalaman Pak Bus yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BULOG dalam menangani krisis beras menjadi modal kuat dalam mengelola stok pangan nasional.
Kini, pemerintah kembali menunjuk seorang prajurit TNI, yakni Novi Helmi, sebagai Kepala BULOG. Dengan latar belakang sebagai Asisten Teritorial Panglima TNI, Novi Helmi membawa pemahaman mendalam tentang pentingnya ketahanan pangan dalam menjaga stabilitas negara. Ketahanan pangan adalah urusan strategis yang erat kaitannya dengan kesejahteraan rakyat, terutama petani yang mayoritas bergantung pada produksi pangan untuk hidup.
Dalam kepemimpinan Prabowo Subianto terus mendorong kesejahteraan petani, menempatkan pangan dan ketahanan pangan untuk menjaga kedaulatan nasional serta memegang peranan penting dalam kebijakan pangan. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pangan adalah bagian integral dari kedaulatan nasional. BULOG diberi tanggung jawab besar dalam menjaga stok pangan, khususnya beras, dengan target penyerapan gabah petani hingga 3 juta ton pada 2025, untuk menghentikan ketergantungan pada impor beras dan mewujudkan program ketahan pangan nasional.

Mengambil pelajaran dari model pengelolaan BULOG di era Pak Bus, prinsip-prinsip dasar yang diterapkan termasuk penetapan harga dasar beras yang mampu merangsang produksi dalam negeri. Salah satu kebijakan terbaru adalah kenaikan harga pembelian gabah dari 6.000 rupiah menjadi 6.500 rupiah per kilogram, diharapkan dapat meningkatkan semangat petani. Namun, faktor-faktor seperti perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan dan banjir tetap menjadi tantangan besar dalam mencapainya.
Menurut data Kementerian Pertanian, produksi gabah nasional terus mengalami penurunan. Pada 2018, produksi gabah mencapai 29,2 juta ton, namun pada 2024 diproyeksikan hanya mencapai 54 juta ton. Menurunnya luas lahan sawah dan dampak bencana alam seperti kekeringan dan banjir menjadi penyebab utama penurunan ini, meskipun pemerintah terus meningkatkan harga pembelian gabah.
Di sisi lain, BULOG juga harus menjaga agar harga beras tetap terjangkau bagi masyarakat. Harga beras medium di pasar telah ditetapkan sebesar 12.000 rupiah per kilogram, namun variasi harga antara beras premium dan beras medium seringkali membingungkan konsumen. Oleh karena itu, penetapan harga batas tertinggi yang layak sangat penting agar tidak memberatkan konsumen.
Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia, Suyanto, menyarankan bahwa BULOG harus berfungsi sebagai lumbung pangan nasional, yang tidak hanya beroperasi di tingkat pusat, tetapi juga hingga ke tingkat desa. Konsep awal BULOG yang melibatkan Koperasi Unit Desa (KUD) sebagai ujung tombak penyerapan beras di tingkat desa seharusnya bisa dijalankan kembali. Tanpa sistem distribusi yang efektif, BULOG akan kesulitan menyerap gabah sesuai kebijakan harga baru yang ditetapkan pemerintah.
Suyanto melanjutkan, agar BULOG memperluas jaringan kerja sama dengan koperasi pasar dan pedagang beras resmi, yang diharapkan dapat membantu pengendalian harga pangan dan memperlancar distribusi beras hingga ke tingkat bawah.
Keterlibatan langsung BULOG dalam rantai pasokan pangan, dari pusat hingga desa, diharapkan dapat menjadikan lembaga ini sebagai pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan yang kokoh, serta memastikan bahwa pangan selalu tersedia dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya.
By:Ki Ageng Sambung Bhadra Nusantara







