Borjuis dan Kaum Elit : Mereka Takut Buruh Pelabuhan Sekolah dan Jadi Sarjana !

Di pelabuhan, sebelum matahari terbit, ada tangan-tangan kasar yang sudah bekerja.
Di bawah panas, di tengah hujan, di antara debu dan risiko kecelakaan, buruh pelabuhan menjaga denyut ekonomi negeri ini.
Mereka memindahkan barang.
Mereka menjaga arus logistik.
Mereka memastikan kebutuhan rakyat sampai ke seluruh penjuru negeri.
Namun ada satu hal yang diam-diam lebih ditakuti oleh borjuis dan kaum elit:
Buruh pelabuhan yang sekolah dan menjadi sarjana.

Kenapa Pendidikan Buruh Ditakuti ?
Sejak lama, sebagaimana dikritik oleh , struktur ekonomi selalu berusaha mempertahankan hierarki:
pemilik modal di atas, pekerja di bawah.
Dalam struktur itu, buruh cukup kuat untuk bekerja —
tetapi jangan sampai terlalu kuat untuk berpikir.
Karena ketika buruh pelabuhan menjadi sarjana:
- Mereka paham hak konstitusionalnya
- Mereka mengerti hukum ketenagakerjaan
- Mereka mampu membaca kontrak dan laporan keuangan
- Mereka berani menuntut transparansi
- Mereka bisa duduk sejajar dalam perundingan
Dan bagi sebagian elit yang nyaman dengan ketimpangan, itu dianggap ancaman.
Realitas yang Menggugah Hati
Coba bayangkan :
Seorang buruh pelabuhan bekerja 10–12 jam sehari.
Pulang dalam keadaan lelah.
Anaknya bertanya, “Ayah, aku bisa kuliah tidak ?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi di baliknya ada harapan tentang masa depan.
Apakah anak buruh hanya ditakdirkan menjadi buruh lagi ?
Apakah lingkaran itu harus terus berputar tanpa kesempatan naik kelas ?
Inilah persoalan moral bangsa.
Jika negeri ini berbicara tentang keadilan sosial,
maka pendidikan anak buruh bukan belas kasihan —
itu hak.
Kebangkitan dari Pelabuhan
Pada Hari Kebangkitan Nasional, 21 Mei 2025, bertepatan dengan Milad SP TKBM Indonesia di Jakarta, Ketua Umum Pimpinan Pusat SP TKBM Indonesia, , mencanangkan program bersejarah:
“Buruh Sekolah & Buruh Sarjana.”
Ini bukan sekadar program organisasi.
Ini adalah seruan moral.
Bahwa buruh pelabuhan berhak :
- Sekolah
- Kuliah
- Menjadi sarjana
- Menguasai teknologi
- Memahami hukum
- Mengelola sistem, bukan hanya menjalankan sistem
Momentum 21 Mei adalah simbol kebangkitan nasional.
Kini kebangkitan itu lahir dari pelabuhan — dari kelas pekerja.
Gerakan Peradaban SP TKBM Indonesia
Gerakan ini adalah Gerakan Peradaban.
Bukan sekadar menuntut kenaikan upah.
Bukan sekadar bantuan sesaat.
Tetapi membangun generasi buruh yang :
- Berpendidikan tinggi
- Berdaya saing
- Melek hukum
- Melek digital
- Mampu memimpin
Karena bangsa yang besar tidak dibangun oleh elit saja.
Ia dibangun oleh rakyat yang tercerahkan.
Menggerakkan Empati Bangsa
Pertanyaannya sekarang bukan lagi :
“Takut atau tidak ?”
Pertanyaannya adalah :
Apakah kita rela buruh & anak buruh terus terhalang akses pendidikan ?
Jika pelabuhan adalah jantung ekonomi nasional,
maka buruh pelabuhan adalah darahnya.
Dan darah bangsa tidak boleh dibiarkan lemah.
Buruh cerdas bukan ancaman bagi negara.
Buruh cerdas adalah kekuatan bangsa.
Mari berdiri bersama.
Bukan untuk melawan siapa pun,
tetapi untuk memastikan bahwa keadilan sosial benar-benar hidup —
bukan hanya tertulis.
Karena ketika buruh bangkit melalui pendidikan,
yang terangkat bukan hanya satu keluarga,
tetapi martabat bangsa.










