Titah Agung dari Langit

 

 

 

Titah Agung dari Langit bukan sekadar rangkaian kata yang indah, melainkan sebuah panggilan zaman, gema sunyi yang mengguncang kesadaran Nusantara dari tidur panjangnya. Ia adalah isyarat halus yang turun bukan dengan suara menggelegar, tetapi melalui getar batin, firasat jiwa, dan kebangkitan kesadaran kolektif anak bangsa. Sebuah pesan agung yang mengalir dari langit kebijaksanaan menuju bumi pertiwi, menuntun arah perjalanan Nusantara menuju zaman keemasan yang telah lama dinantikan.

Kebangkitan Nusantara menuju zaman keemasan adalah sebuah keniscayaan. Ia bukan angan-angan kosong, bukan pula sekadar romantisme sejarah tentang kejayaan masa silam. Ia adalah siklus peradaban yang berputar, sebagaimana siang berganti malam dan musim berganti musim. Dalam catatan semesta, setiap bangsa memiliki masa jatuh dan bangunnya. Dan kini, tanda-tanda kebangkitan itu kian nyata, terlihat dari kesadaran yang mulai tumbuh, dari kegelisahan yang melahirkan pencarian, serta dari jiwa-jiwa yang terpanggil untuk mengabdi tanpa pamrih.

Para putra dan putri pilihan Nusantara telah bermunculan. Mereka bukan selalu orang-orang yang dikenal luas, bukan pula mereka yang gemerlap oleh sorotan dunia. Sebagian hadir dalam kesederhanaan, bekerja dalam sunyi, bergerak tanpa banyak bicara. Namun di dalam diri mereka menyala api kesadaran, tekad pengabdian, dan keberanian untuk memikul amanah zaman. Mereka hadir di berbagai lini kehidupan, di pemerintahan, pendidikan, budaya, ekonomi, pertanian, teknologi, hingga di ruang-ruang kecil keluarga dan komunitas. Mereka adalah simpul-simpul cahaya yang perlahan terhubung membentuk jaringan kebangkitan.

Dalam perjalanan mengemban amanah ini, para putra putri pilihan Nusantara tidak berjalan sendiri. Mereka didampingi oleh kekuatan doa dan restu para leluhur. Leluhur bukan dimaknai sekadar sebagai sosok masa lalu, melainkan sebagai mata rantai kebijaksanaan yang tidak pernah terputus. Nilai-nilai luhur, ajaran tentang kejujuran, keberanian, welas asih, gotong royong, dan keselarasan dengan alam, itulah warisan sejati yang mengalir dalam darah generasi penerus.

Baca Juga  Membangkitkan Para Penjaga Ekonomi Nusantara IKA ISMEI dan Mewujudkan Amanat Pasal 33 UUD 1945

Pendampingan leluhur hadir dalam bentuk ilham, dalam kejernihan hati saat mengambil keputusan, dalam keteguhan saat menghadapi ujian, dan dalam perlindungan yang tak kasat mata dari jalan-jalan yang menyimpang. Semua berjalan berdasarkan pakem, tatanan nilai dan hukum keseimbangan yang telah diwariskan turun-temurun. Pakem ini bukan sekadar aturan adat, tetapi hukum harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta.

Titah Agung ini mengarahkan agar setiap langkah kebangkitan tidak didasarkan pada ambisi pribadi, melainkan pada petunjuk kebijaksanaan. Setiap program dan gerakan yang dilaksanakan bukan sekadar proyek duniawi, melainkan bagian dari laku pengabdian. Pelaksanaan program yang akan dijalankan mencakup seluruh bidang kehidupan, sebab kebangkitan sejati tidak dapat berdiri hanya pada satu sektor. Ia harus menyentuh pendidikan yang mencerdaskan akal sekaligus membentuk karakter, harus menguatkan ekonomi yang berkeadilan dan beretika, harus membangun pemerintahan yang bersih dan berpihak pada kesejahteraan rakyat, serta harus menghidupkan kembali budaya sebagai ruh identitas bangsa.

Namun dari semua itu, yang menjadi prioritas utama dan titik berat kebangkitan adalah pembangunan mental dan spiritual. Sebab keruntuhan suatu bangsa bukan semata karena lemahnya infrastruktur atau minimnya sumber daya, melainkan karena rapuhnya moral, kaburnya arah hidup, dan terputusnya hubungan dengan nilai-nilai Ilahi. Mental yang kuat akan melahirkan ketangguhan menghadapi ujian. Spiritual yang kokoh akan melahirkan integritas, kejujuran, dan rasa tanggung jawab yang tinggi.

Pembangunan mental spiritual bukan berarti menjauh dari dunia, melainkan memaknai dunia dengan kesadaran yang lebih dalam. Ia mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah, kekayaan adalah titipan, dan ilmu adalah cahaya untuk menerangi, bukan untuk menyombongkan diri. Dengan mental yang terbangun dan spiritual yang terjaga, setiap bidang kehidupan akan bergerak selaras, tidak saling merusak, tetapi saling menguatkan.

Baca Juga  NAPAK TILAS KE JEJAK LELUHUR MEMBAWA BERKAH

Zaman keemasan Nusantara yang dimaksud bukanlah sekadar kejayaan materi, melainkan kejayaan martabat. Sebuah masa ketika manusia Nusantara berdiri tegak dengan jati diri, tidak tercerabut dari akar budayanya, namun mampu bersinergi dengan dunia. Sebuah masa ketika kemajuan teknologi berjalan seiring dengan keluhuran budi. Ketika pembangunan fisik diimbangi dengan pembangunan jiwa. Ketika perbedaan tidak lagi menjadi sumber perpecahan, tetapi menjadi warna yang memperkaya.

Titah Agung dari Langit adalah panggilan untuk kembali pada keseimbangan. Ia mengingatkan bahwa setiap individu memiliki peran, sekecil apa pun. Tidak semua harus menjadi pemimpin besar; sebagian cukup menjadi penopang yang setia, penggerak di lingkungannya, atau penjaga nilai di keluarganya. Kebangkitan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Maka saat ini adalah momentum. Momentum untuk membersihkan niat, meluruskan tujuan, dan memperkuat barisan dalam bingkai persatuan. Nusantara tidak akan bangkit oleh segelintir orang saja, melainkan oleh kesadaran kolektif yang terbangun dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote. Ketika hati-hati kembali menyala oleh iman, ketika pikiran kembali jernih oleh ilmu, dan ketika tindakan kembali dilandasi oleh akhlak, saat itulah Titah Agung benar-benar menjelma menjadi kenyataan.

Zaman keemasan itu bukan sesuatu yang turun begitu saja dari langit, melainkan terwujud melalui ikhtiar, doa, dan kesetiaan pada nilai-nilai luhur. Dan di balik semua itu, semesta seakan berbisik lembut: bangkitlah wahai Nusantara, sebab waktumu telah tiba.

 

 

By: Ki Ageng Sambung Bhadra Nusantara