Disetiap Jengkal Tanah Nusantara, Tersimpan Jejak Langkah Leluhur

Disetiap Jengkal Tanah Nusantara, Tersimpan Jejak Langkah Leluhur

 

Nusantara adalah satu tubuh besar yang hidup, berdenyut, dan bernapas. Gunung-gunungnya adalah tulang punggung yang menyangga langit, hutannya adalah paru-paru yang menyaring kehidupan, sungainya adalah aliran darah yang membawa keseimbangan, dan manusia-manusia yang hidup di atasnya adalah kesadaran yang menentukan arah langkahnya. Di setiap jengkal tanah Nusantara, tersimpan jejak langkah leluhur, doa-doa yang dipanjatkan dalam sunyi, serta ikrar batin yang ditanam bukan untuk satu zaman, melainkan untuk keberlangsungan generasi.

Tanah ini tidak dibangun hanya oleh kekuatan fisik dan kecerdikan akal, tetapi oleh kesepakatan batin yang tak tertulis bahwa perbedaan adalah anugerah, dan persatuan adalah jalan keselamatan. Leluhur Nusantara memahami betul bahwa negeri sebesar ini hanya bisa tegak jika rasa saling menjaga lebih kuat daripada hasrat saling menguasai.

Namun kini, hembusan angin Nusantara tidak selalu membawa kesejukan. Ada rasa ganjil yang menyusup perlahan, getaran halus yang tak kasat mata namun terasa di dalam dada. Bukan gempa yang mengguncang tanah, melainkan gempa rasa yang menggoyahkan kesadaran. Ancaman perpecahan tidak datang dengan dentuman senjata atau teriakan perang, melainkan hadir sebagai bisik-bisik yang memecah kepercayaan, kabut tipis yang menutupi kejernihan pandang, dan kata-kata yang tampak benar namun kehilangan welas asih.

Perpecahan itu bergerak diam-diam dari bawah hingga ke atas, dari percakapan kecil di sudut desa hingga keputusan besar di pusat kekuasaan. Semua merasa sedang memperjuangkan kebenaran, namun sedikit yang benar-benar mau berhenti untuk mendengarkan. Rasa paling benar tumbuh subur, sementara rasa saling memahami perlahan mengering.

Di lapisan kegaiban, Nusantara dahulu tampak sebagai satu cahaya besar, utuh, hangat, dan memancar ke segala penjuru. Kini cahaya itu seakan terbelah oleh bayang-bayang ego, ambisi, dan lupa diri. Bukan karena Nusantara kehilangan kekuatan, melainkan karena manusia-manusianya mulai tercerabut dari tali batin yang menyatukan mereka. Perkumpulan kecil mengeras dalam keyakinan sempit, perkumpulan besar terjerat kepentingan yang melampaui nurani. Semua mengklaim membela negeri, namun lupa bertanya: apakah yang dibela adalah Nusantara, atau hanya kelompoknya sendiri?

Baca Juga  Asosiasi Pesantren NU Jakarta Ungkap Hasil Tes LAB Positif menggunakan Minyak Babi pada Pelumas Food Tray Impor dari China Ke RI(Republik Indonesia) 

Para leluhur yang dahulu menanam tapak batin di tanah ini tidak pernah mengajarkan perpecahan sebagai jalan. Mereka mewariskan laku keseimbangan menjaga harmoni antara langit dan bumi, antara rasa dan akal, antara kuasa dan welas asih. Mereka tahu, kekuatan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kerusakan, dan kebenaran tanpa kerendahan hati akan menjelma menjadi tirani rasa.

Ketika keseimbangan itu terganggu, alam tidak serta-merta murka. Ia lebih dahulu berbisik. Bisikan itu hadir dalam mimpi-mimpi yang gelisah, kegundahan kolektif yang sulit dijelaskan, serta kejadian-kejadian ganjil yang dianggap biasa karena terlalu sering terjadi. Semua itu bukan hukuman, melainkan tanda bahwa ada yang perlu dibenahi sebelum terlambat.

Nusantara sejatinya sedang diingatkan, bukan diancam. Diingatkan agar manusia-manusianya kembali merunduk sebelum bicara, kembali hening sebelum memutuskan, dan kembali menimbang rasa sebelum bertindak. Sebab perpecahan tidak selalu lahir dari kebencian yang nyata; sering kali ia tumbuh dari niat suci yang kehilangan kebijaksanaan, dari semangat membela yang lupa pada batas kemanusiaan.

Waspadalah, wahai Nusantaraku. Bukan semata pada musuh yang datang dari luar batas, melainkan pada retak-retak halus di dalam diri manusia yang menghunimu. Sebab jika batin manusia tercerai-berai, maka cahaya Nusantara pun perlahan meredup, bukan karena padam, tetapi karena tertutup oleh bayang dirinya sendiri.

Namun harapan itu belum hilang. Selama rasa masih bisa disatukan, selama manusia Nusantara masih mau kembali pada akar batinnya, negeri ini akan kembali berdiri tegak tanpa angkuh, tenang tanpa takut, dan dijaga bukan hanya oleh yang kasat mata, tetapi juga oleh doa-doa lama yang tak pernah benar-benar pergi. Nusantara hidup selama manusianya mau hidup dalam kesadaran. Dan kesadaran itu selalu dimulai dari dalam.

Baca Juga  Warga Kebon Sayur Cengkareng Geruduk Kantor Walikota Jakarta Barat " Hentikan Penggusuran dan Perusakan Lingkungan oleh pihak Mafia Tanah "

Salam Nusantara

 

By : Ki Ageng Sambung Bhadra Nusantara