Peradaban Nusantara Dimulai dari Buruh Pelabuhan Buruh Pelabuhan – Penjaga Denyut Nadi Nusantara

Peradaban Nusantara Dimulai dari Buruh Pelabuhan

Buruh Pelabuhan – Penjaga Denyut Nadi Nusantara

 

Jakarta, 15 September 2025, TKBM News- Sejak masa lampau, Nusantara dikenal sebagai bangsa maritim. Laut bukan sekadar pemisah pulau, melainkan penghubung peradaban. Dari jalur pelayaran itulah Islam datang membawa cahaya keselamatan dan persaudaraan. Di titik inilah peran buruh pelabuhan menjadi nyata: mereka adalah penjaga pintu peradaban, orang-orang yang memastikan barang, kapal, dan perdagangan dapat berjalan.

Tanpa buruh pelabuhan, denyut ekonomi dan hubungan antarbangsa akan terhenti. Sejarah mencatat bahwa di pelabuhan-pelabuhan besar Nusantara—dari Aceh, Malaka, Gresik, Banten hingga Makassar—selalu ada aktivitas buruh yang menjadi motor kehidupan kota pelabuhan.

Islam, Maritim, dan Peradaban Nusantara

Islam hadir dan berkembang di Nusantara justru melalui pelabuhan. Para pedagang muslim dari Arab, Gujarat, hingga Cina datang bukan dengan pedang, melainkan dengan perdagangan, dakwah, dan akhlak mulia. Pelabuhan menjadi ruang pertemuan budaya dan ilmu pengetahuan.

Dari pelabuhan, lahirlah kesultanan-kesultanan maritim Islam yang membangun peradaban: Samudera Pasai, Malaka, Demak, Banten, Aceh Darussalam, hingga Ternate-Tidore. Masjid, pesantren, dan kitab menjadi cahaya pengetahuan yang berakar dari denyut pelabuhan.

Artinya, buruh pelabuhan bukan sekadar pekerja fisik, melainkan bagian dari rantai sejarah besar peradaban Islam Nusantara.

Buruh Pelabuhan di Era Modern

Kini, di abad ke-21, buruh pelabuhan tetap memikul peran penting. Mereka bukan hanya pekerja yang mengangkat barang, melainkan penjaga kedaulatan ekonomi bangsa. Setiap kontainer, setiap kapal yang keluar-masuk pelabuhan, menjadi simbol bahwa buruh pelabuhan masih menjadi ujung tombak distribusi perdagangan nasional.

Namun, realitas menunjukkan masih banyak buruh pelabuhan yang hidup dengan kondisi ekonomi terbatas, minim akses pendidikan, dan jauh dari kesejahteraan. Padahal, mereka adalah fondasi dari logistik nasional dan global supply chain. Jika buruh pelabuhan lemah, maka rantai ekonomi bangsa pun rapuh.

Baca Juga  Sutarto Alimoeso Terpilih Kembali Untuk Periode 2025-2030 pada Munas PERPADI Ke-VI

Kebangkitan Peradaban Dimulai dari Buruh

Jika bangsa Indonesia ingin membangkitkan peradaban Nusantara, maka langkah pertama adalah mengangkat harkat dan martabat buruh pelabuhan. Beberapa langkah strategis:

  1. Pendidikan Buruh dan Keluarganya – Program Buruh Sekolah dan Buruh Sarjana digagas oleh SP TKBM Indonesia untuk mencetak generasi baru yang cerdas.
  2. Kesejahteraan dan Keadilan Kerja – jaminan upah layak, BPJS, dan perlindungan hukum melalui LBH TKBM Indonesia.
  3. Pemberdayaan Ekonomi – koperasi, KPR Peradaban untuk perumahan buruh, serta akses usaha produktif, warung pangan Koppelindo Mandiri.
  4. Pelatihan dan Sertifikasi – meningkatkan kompetensi agar buruh tidak dipandang rendah, melainkan sebagai pekerja profesional melalui Badan Diklat TKBM Indonesia – Badiklat Pekerja Indonesia.
  5. Integrasi Budaya dan Spirit Islam – menjadikan nilai iman, ukhuwah, dan keadilan sebagai roh gerakan kebangkitan di gulirkan dengan disiapkannya oleh Pelayaran Rakyat melalui Pinisi Nusantara Musium & Education Heritage .

Penutup

Peradaban besar selalu lahir dari akar yang sederhana. Nusantara pernah berjaya karena pelabuhan dan laut menjadi urat nadi ekonomi serta jalur penyebaran Islam. Kini, kebangkitan Nusantara di abad modern pun harus dimulai dari sana: buruh pelabuhan sebagai garda depan peradaban.

Jika buruh pelabuhan diangkat martabatnya, diberi ilmu, sejahtera, dan kuat dalam iman, maka Nusantara akan bangkit kembali sebagai pusat peradaban dunia.

Peradaban Nusantara dimulai dari pelabuhan, dan di sanalah buruh menjadi pembuka jalan kebangkitan bangsa.

 

oleh : Subhan Hadil – Ketua Umum Pimpinan Pusat  SP TKBM Indonesia

 

 

Posting Terkait

Jangan Lewatkan