Dollar Menggila, Harga Kedelai Melejit — Pengrajin Tahu Tempe Mulai Menjerit

Dollar Menggila, Harga Kedelai Melejit — Pengrajin Tahu Tempe Mulai Menjerit

Krisis Harga Kedelai Ancam Kelangsungan Industri Tahu dan Tempe, Pemerintah Diminta Turun Tangan

Foto dok : Ketua Pengawas Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Kota Bekasi -Jawa Barat, Joko Setiawan,

 

Bekasi, 19 April 2025, TKBM News — Lonjakan nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) yang terus terjadi belakangan ini tidak hanya mengguncang pasar keuangan, tetapi juga memukul keras sektor industri kecil dan menengah di Indonesia. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri pengolahan kedelai, khususnya para perajin tahu dan tempe yang selama ini bergantung pada bahan baku impor.

Naiknya harga kedelai sebagai efek langsung dari menguatnya kurs dollar membuat para pengrajin tahu dan tempe di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya kelimpungan. Pasalnya, hampir seluruh pasokan kedelai di pasar dalam negeri masih berasal dari impor, dan nilainya terus merangkak naik. Kini, harga kedelai impor tercatat telah menembus angka Rp10.000 per kilogram—naik drastis dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Di tengah lonjakan harga tersebut, para pengrajin tahu dan tempe tetap memilih untuk melanjutkan produksi, meskipun dengan beban biaya yang semakin berat. Sebagian besar dari mereka memilih strategi bertahan dengan cara mengurangi ukuran produk ketimbang menaikkan harga secara drastis. Langkah ini diambil agar tidak kehilangan konsumen di tengah daya beli masyarakat yang masih belum sepenuhnya pulih.

Pengrajin Tahu dan Tempe Mulai Resah

Ketua Pengawas Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Kota Bekasi -Jawa Barat, Joko Setiawan, mengungkapkan kegelisahan para pengrajin yang kini berada dalam kondisi mulai sulit. Ia menyatakan bahwa para pelaku industri tahu tempe semakin terbebani dengan kenaikan harga kedelai yang terjadi sejak sebelum Lebaran tahun ini.

Baca Juga  Presiden Prabowo Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada 10 Putra-Putri Terbaik Bangsa : Memaknai Hari Pahlawan 10 November 2025 dari Dimensi Spiritual dan Kebangsaan

“Harga kedelai naik terus secara perlahan sejak sebelum Idul Fitri. Sekarang sudah tembus kisaran Rp10.000 per kilogram. Ini membuat para pengrajin resah, karena kenaikan harga jual tahu tempe belum bisa dilakukan secara serempak,” kata Joko, saat ditemui di sela-sela aktivitas berjualan di pasar, Sabtu (19/4).

Menurut Joko, meskipun tidak mengikuti secara detail dinamika pasar global dan kebijakan tarif impor, para pengrajin memahami bahwa penguatan dolar AS menjadi salah satu pemicu utama melonjaknya harga kedelai impor. Sayangnya, opsi menggunakan kedelai lokal belum bisa sepenuhnya diterapkan karena jumlah dan kualitasnya yang belum mencukupi kebutuhan produksi.

“Faktor dollar memang sangat dominan. Kami hanya bisa berharap harga kedelai bisa segera stabil, karena kalau terus naik, usaha kecil seperti ini bisa gulung tikar,” lanjut Joko.

Ukuran Diperkecil, Produksi Tetap Jalan

Di wilayah DKI Jakarta, kondisi serupa juga terjadi. Meskipun beban produksi meningkat, para pengrajin memilih bertahan. Namun sebagai langkah efisiensi, sebagian besar di antaranya mulai mengurangi ukuran tahu dan tempe agar tetap dapat menjual produk dengan harga yang sama. Langkah ini diambil untuk menjaga loyalitas konsumen, sekaligus mempertahankan omzet di tengah krisis.

Kalau harga langsung di naikkan, ada kekhawatiran pelanggan kabur. Jadi dengan cara di kecilkan ukurannya sedikit demi sedikit. Itu cara paling aman buat sementara waktu.

Koperasi Minta Intervensi Pemerintah

Ketua Umum Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Primkopti), Suyanto, menegaskan bahwa kondisi ini bukan hanya berdampak lokal, tetapi telah menjadi masalah nasional. Ia menyampaikan bahwa pemerintah harus segera mengambil langkah konkret guna menstabilkan harga kedelai di pasar, sekaligus mendorong peningkatan produksi kedelai lokal agar ketergantungan terhadap impor bisa dikurangi.

Baca Juga  8 Oktober 2025 Dimulai Pelaksanaan Pendidikan Buruh Pelabuhan : SP TKBM Indonesia Resmi Jalankan Program “Buruh Sekolah & Buruh Sarjana”

“Kami tidak bisa seenaknya menaikkan harga jual tahu tempe. Harus ada kesepakatan secara bersama antar pengrajin dan koperasi. Jadi yang bisa dilakukan sekarang adalah menyiasati dengan pengurangan takaran,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Suyanto menyoroti fluktuasi harga kedelai dalam beberapa tahun terakhir yang sangat memberatkan pelaku industri kecil. “Tahun lalu harga kedelai sempat tembus Rp14.000 per kilogram, lalu turun ke sekitar Rp9.000. Sekarang sudah naik lagi ke angka Rp10.000 an dan terus menunjukkan tren naik. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa banyak pengrajin kecil yang gulung tikar,” tegasnya.

Suyanto juga menambahkan bahwa upaya jangka panjang yang perlu dilakukan adalah mendorong peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menghasilkan kedelai berkualitas tinggi, namun dibutuhkan keseriusan dalam penanganannya, benih varitas unggulan, serta jaminan pembelian hasil panen.

“Jika Indonesia mampu swasembada kedelai, kita tidak perlu lagi bergantung pada impor. Harga bisa stabil, petani diuntungkan, pengrajin pun bisa tenang. Ini harus menjadi perhatian pemerintah,” pungkas Suyanto.

Harapan dari Industri Rakyat

Industri tahu tempe bukan sekadar bisnis kecil-kecilan. Di baliknya terdapat ribuan rumah tangga yang menggantungkan hidup. Kenaikan harga bahan baku seperti kedelai bukan hanya memengaruhi biaya produksi, tapi juga menjadi ancaman nyata terhadap keberlangsungan usaha, lapangan kerja, dan ketersediaan pangan rakyat.

Kini, para pengrajin tahu dan tempe berharap kepada pemerintah—agar segera hadir di tengah krisis yang mengancam ini. Bagi mereka, intervensi pemerintah bukan lagi soal bantuan sesaat, melainkan langkah penyelamatan industri rakyat yang telah puluhan tahun menjadi bagian dari denyut ekonomi nasional.

Ki Ageng Sambung Bhadra Nusantara