Mental Spiritual bagi Buruh Pelabuhan dalam Mewujudkan Generasi Emas

Mental Spiritual bagi Buruh Pelabuhan dalam Mewujudkan Generasi Emas

 

 

oleh : Subhan Hadil.MA – Ketua Umum Pimpinan Pusat SP TKBM Indonesia / Inisiator Pendiri Badan Diklat TKBM Indonesia – Pembina SATSENA TKBM Indonesia

 

Pentingnya membangun mental spiritual pada buruh pelabuhan tak bisa diabaikan. Dalam lingkup pekerjaan fisik yang penuh tantangan, seperti di pelabuhan, buruh kerap menghadapi berbagai tekanan kerja, risiko keselamatan, dan tuntutan produktivitas. Meskipun keterampilan teknis dan fisik sangat diperlukan, aspek mental spiritual sering kali luput dari perhatian. Padahal, tanpa nilai spiritual yang kokoh dalam diri, sulit rasanya mencapai visi Generasi Emas 2045 yang berkarakter unggul dan berdaya saing tinggi.

Pentingnya Spiritualitas bagi Buruh Pelabuhan
Nilai-nilai spiritual, seperti kejujuran, integritas, kerja sama, dan keikhlasan, memberikan fondasi yang kuat bagi para pekerja pelabuhan dalam menghadapi tekanan kerja dan tantangan hidup sehari-hari. Ketika buruh memiliki nilai spiritual yang tinggi, mereka cenderung lebih mampu mengatasi stres, lebih tangguh menghadapi situasi sulit, dan lebih loyal pada pekerjaan serta lingkungan sekitar.

Selain itu, mental spiritual yang sehat akan mendukung terbentuknya solidaritas dan rasa kebersamaan di antara buruh pelabuhan. Solidaritas ini penting untuk mendorong kerja tim yang efektif, mengurangi konflik, dan menciptakan lingkungan kerja yang harmonis. Dalam pekerjaan di sektor pelabuhan, setiap individu bergantung satu sama lain. Sebuah rantai kerja yang kuat hanya dapat terwujud jika setiap individu dalam rantai tersebut memiliki kepedulian, empati, dan komitmen untuk bekerja sama—hal-hal yang dapat diperkuat melalui pendekatan spiritualitas.

Analisis Kebijakan Ketenagakerjaan dan Pendidikan-Pelatihan
Kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia selama ini sudah memperhatikan aspek kesejahteraan dan peningkatan keterampilan buruh, seperti melalui pelatihan-pelatihan kerja yang disediakan pemerintah dan perusahaan. Program pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis para buruh agar sesuai dengan kebutuhan industri, khususnya di sektor strategis seperti pelabuhan.

Baca Juga  BURUH PELABUHAN BERGERAK! PRESIDEN, MENKEU & MENDIK WAJIB STOP BEASISWA LUAR NEGERI — PRIORITASKAN BURUH PELABUHAN, ANAK & KELUARGA SEKOLAH DAN JADI SARJANA DI NEGERI SENDIRI !

Namun, peningkatan keterampilan teknis semata tidak cukup. Pendidikan dan pelatihan harus turut menyertakan aspek mental spiritual agar tercipta pekerja yang utuh, yaitu pekerja yang tidak hanya terampil tetapi juga berintegritas. Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan, misalnya, bisa merancang program pelatihan yang juga mencakup aspek nilai spiritual dan mental. Program ini bisa diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan vokasi atau pelatihan khusus bagi buruh pelabuhan. Dengan demikian, para buruh tidak hanya dibekali keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan dalam mengelola emosi, menjaga moralitas, dan memelihara hubungan sosial yang positif.

Peningkatan Skill dan Solidaritas sebagai Pilar Kekuatan
Selain penguatan aspek spiritual, pelatihan peningkatan skill harus diarahkan pada penguasaan teknologi dan pemahaman keselamatan kerja yang lebih mendalam. Di era digital ini, pelabuhan modern memerlukan pekerja yang mampu beradaptasi dengan teknologi. Namun, teknologi tidak boleh melupakan nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas antarburuh. Justru dengan skill yang meningkat dan rasa solidaritas yang kuat, buruh pelabuhan dapat mencapai produktivitas yang optimal tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Solidaritas yang terbentuk dari nilai spiritual yang kuat akan menciptakan iklim kerja yang kondusif, di mana setiap buruh merasa dihargai dan dipedulikan. Mereka tidak hanya bekerja untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kepentingan bersama. Dalam jangka panjang, hal ini akan berdampak positif pada produktivitas pelabuhan secara keseluruhan serta meningkatkan kesejahteraan buruh.

Kesimpulan
Membangun mental spiritual yang kuat pada buruh pelabuhan adalah langkah penting untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia. Pekerja yang memiliki nilai spiritual akan lebih siap menghadapi tantangan kerja, lebih loyal, dan mampu berkontribusi lebih baik bagi perusahaan dan negara. Untuk mendukung ini, kebijakan ketenagakerjaan harus mengarah pada keseimbangan antara peningkatan keterampilan teknis dan penguatan mental spiritual. Program pendidikan dan pelatihan yang mencakup aspek spiritualitas dan solidaritas harus menjadi bagian integral dalam pembinaan tenaga kerja di sektor pelabuhan. Dengan demikian, kita tidak hanya menciptakan buruh yang produktif tetapi juga manusia yang berkarakter unggul dan tangguh, sesuai dengan cita-cita Generasi Emas 2045.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan