MENIKMATI PERJALANAN KERJA DENGAN EUFORIA TOUR INDONESIA

Berita1429 Dilihat

MENIKMATI PERJALANAN KERJA DENGAN EUFORIA TOUR INDONESIA

Oleh : Diyan Setiyawati Towikromo (Direktur Program Phinisi Nusantara Gallery & Education Heritage)

Mempercayakan perjalanan kerja kami dengan menggunakan jasa dari EUFORIA TOUR INDONESIA adalah pilihan yang paling tepat. Dengan keadaan armada yang baru dan kesantunan, keramahan juga kerapihan berbusana dan kebersihan driver nya membuat kami makin lebih nyaman.

Ya, hari Kamis, 6 Juni 2024, pesawat kami landing di Bandara Adi Sumarno, Solo, Jawa Tengah, sekitar pukul 10.27 WIB. Driver sangat aktif menghubungi kami, sehingga kedatangan kami pun tidak menunggu lama dan langsung menuju ke kantor Balaikota Surakarta. Setelahnya kami berkunjung ke beberapa tempat di Kota Solo untuk melakukan pekerjaan lainnya, sepanjang diperjalanan kami selalu menengok ke jendela. Kota Solo telah banyak kemajuan, Kota Solo bersih, teratur, dan banyak kulineran di pinggir jalan.

Wah asiik sekali, buat para penikmat kulineran malam hari Kota Solo seperti tak padam, sampai malam hari pun kami masih berdiskusi tipis dengan beberapa tokoh masyarakat disana tentunya menikmati sajian kulineran UMKM di pinggir jalan.

Waah Kerenn, keren, keren. Hanya kata itu selalu yang keluar dari bibir kami. Selamat untuk warga Kota Solo, memiliki Walikota Solo yang bagus kinerjanya, tak sekedar muda tapi juga mampu mengangkat perekonomian Kota Solo. Perekonomian Kota Solo telah bangkit dan bersinar. Tiba-tiba aku merasakan kerinduan yang mendalam pada kampung leluhurku sendiri, Yupss. Yogyakarta, saudaranya Kota Solo (Surakarta).

Tentu kawan-kawan masih ingat dong, bagaimana sejarah kesultanan Surakarta dan Yogyakarta.

Duhh, saya boleh yaa, bercerita singkat tentang sejarah kedua Kota ini. Boleh kan?…

Sejarah kesultanan Surakarta dan Yogyakarta ini terjadi sekitar pada akhir abad ke-16 yang terdapat sebuah kerajaan Islam di Jawa bagian tengah-selatan bernama Mataram. Kerajaan ini berpusat di daerah Kotagede (sebelah tenggara Kota Yogyakarta saat ini). Pada jaman dahulu, lambat laun kewibawaan dan kedaulatan Mataram semakin terganggu akibat intervensi pihak Belanda. Akibatnya, timbul gerakan anti penjajah di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi yang mengobarkan perlawanan terhadap Belanda dan juga beberapa tokoh lokal yang dapat dipengaruhi oleh Belanda seperti Patih Pringgalaya. Untuk mengakhiri perselisihan tersebut dicapai Perjanjian Giyanti atau Babad Palihan Nagari. Perjanjian Giyanti di sinilah sangat mempengaruhi jalannya sejarah peradaban Jawa. Isi perjanjian yang juga melibatkan Belanda ini telah membelah wilayah Mataram Islam yang memunculkan dua kerajaan, yaitu Kesunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan  Ngayogyakarta Hadiningrat. Perjanjian Giyanti dengan Babad Palihan Nagari yang ditandatangani tanggal 13 Februari 1755. Nama Giyanti pun diambil dari lokasi penandatanganan perjanjian ini yakni di Desa Giyanti (dalam ejaan van Ophuijsen menjadi Gijanti). Saat ini, desa tersebut terletak di Dukuh Kerten, Desa Jantiharjo, dekat Karanganyar, Jawa Tengah. Berdasarkan Perjanjian Giyanti, wilayah milik Mataram di sebelah timur Sungai Opak (yang mengalir dekat Candi Prambanan) dikuasai oleh Susuhunan Pakubuwana III atau penguasa Kesunanan Surakarta sedangkan wilayah yang berada di sebelah barat Sungai Opak dikuasai oleh Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwana I.

Baca Juga  Audi Launches Its New Advertisement

Sejarah singkatnya sampai disini saja yaa kawan pembaca yang setia karena saya harus menunaikan kerinduan saya pada tanah leluhur saya, tepat pada hari Sabtu saya menginjakkan kaki saya di Yogyakarta, berziarah ke makam keluarga, melepas rindu dalam alunan doa kepada pemilik alam semesta, Tuhan Yang Maha Esa.

Dari berziarah saya pun mengunjungi beberapa tempat di wilayah Kota Pelajar ini (Yogyakarta) karena Yogyakarta punya paket komplit wisata mulai dari bukitnya, gunungnya, pantainya, Goa, air terjun, wisata budayanya, kulinernya dan lain lain. Karena waktu saya sangat terbatas, saya maksimalkan wisata sehati aja alias one day trip di Yogyakarta pada hari Minggunya dengan mengunjungi kawan seperjuangan dan tokoh-tokoh masyarakat di kota pelajar. Diskusi sambil menikmati pemandangan dari atas bukit yang menghadap ke Candi Prambanan.

Euforia Tour Indonesia bukan hanya melayani jasa perjalanan lhoo kawan-kawan tetapi ada event organizernya. Terima kasih Euforia Tour Indonesia, anda bukan hanya menemani perjalanan kami, tapi anda menjadi bagian sejarah dalam melestarikan kekayaan alam Indonesia, dalam menjaga dan berbagi pengetahuan tempat-tempat sejarah.

Kerja-kerja ini terkesan simpel, hanya antar jemput dan temani, tapi lebih dari itu. Anda bagian dari sumber ilmu pengetahuan sejarah yang akan mengantar dan menemai turis domestik dan turis mancanegara, anda juga menjadi bagian penyumbang devisa negara.

Tepat pada Hari senin tanggal 10 Juni kami harus kembali ke Jakarta, dari Bandara Yogyakarta Internasional. Kami sengajakan diri berangkat dari sini karena ingin juga menikmati bandara baru di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tentunya perjalanan kami masih ditemani oleh Euforia Tour Indonesia. Karena Jadwal Terbang kami sekitar pukul 13.15 WIB. Tentu kesempatan yang baik ini tak ingin kami lewati.

Baca Juga  Mitos, Indonesia Tidak Dijajah 350 Tahun

Tiap sudut kawasan bandara selalu asiikk untuk menjadi spot selfie, hehehe.

Upss, lagi-lagi nih, perbuatan simple ini bukan gerakan riya loh. Hanya sekedar “pamer” begitu indahnya Indonesia. Kalau mau tahu, boleh datang ke Indonesia.

Oke saya ulas sedikit saja dehh tentang Bandara ini yaa.

Bandara ini bernama Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA), yang terletak di Kapanewon Temon, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta dan diresmikan pada tahun 2020. Bandara yang letaknya 60 Kilometer dari kawasan Candi Borobudur ini memiliki beberapa keunikan lhoo. Diantaranya desainnya yang unik dan ikonik bangett. Bangunannya sih tampak modern tetapi tetap memperlihatkan kebudayaan Yogyakarta, karena disini banyak banget hasil karya seniman lokal yang menghiasi kawasan bandara ini. Selain itu nih, terpasang Tower Airnav. Tower ini diklaim kuat menahan gempa dengan kekuatan hingga 8,8 magnitudo dan dibangun di ketinggian 15 Mdpl sehingga diklaim mampu menahan gelombang Tsunami dengan ketinggain 12 meter. Tentunya dengan hadirnya bandara anyar ini, akan menambah penghasilan daerah dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Alarm suara di bandara menghentakkan saya dalam keasikan ber-swafoto, untuk bergegas ayunkan kaki lebih kencang untuk segera masuk pesawat. Dan rasanya, baru sebentar saja berada di Yogyakarta.

Titip rindu selalu untuk Yogyakarta. Next saya pasti kembali !!.