Matahari Dari Utara

Berita, Ekonomi1677 Dilihat

Oleh:
Diyan Setiyawati Towikromo – Direktur Phinisi Nusantara (Gallery & Education Heritage)

Indonesia emas 2045 bukanlah narasi politikus tetapi menjadi tantangan dan tanggungjawab kita bersama dalam menghadapinya. Jakarta Utara adalah tanah kelahiran. Akan menjadi durhaka terhadap ibu pertiwi, kalau kami terlalu cuek pada warisan nusantara. Ya, berjiwa patriotisme tidaklah simsalabim. Harus ditanamkan, diajarkan dan di implementasikan. Rumah tentunya menjadi perpustakaan pertama dari bingkai negara yang besar. Dan itu harus dimulai dalam diri kita sendiri, memang tak mudah tapi kalau bukan kita yang merawat dan menjaganya, siapa lagi?.

 

 

Saya sangat bangga akan kota saya, meski tak jarang pelabelan sebagai tempat kriminalitas, kumuh, kotor, kota tertinggal dan cibiran lainnya, maklumkan saja tak kenal maka tak sayangkan. Ini tentu menjadi PR dan tanggungjawab kita bersama untuk menggerakkan kepedulian masyarakat dan terutama kawan-kawan muda. Mungkin tulisan kecil ini dapat menjadi obor penerang hati untuk mengkampanyekan cinta tanah air. Karena berbicara utara Jakarta, ada salah satu pelabuhan tertua di Indonesia, pelabuhan sunda kelapa yang menjadi saksi bisu kisah perjalanan panjang kota Jakarta. Dulu nama daerah ini adalah kalapa karena banyak sekali pohon kelapa. Pelabuhan kalapa merupakan pelabuhan sunda atau yang lebih dikenal saat itu sebagai kerajaan Pajajaran (kini menjadi kota Bogor). Pelabuhan ini diperkirakan sudah ada pada abad ke-5 dan saat itu disebut Sundapura serta sudah digunakan sebagai pelabuhan sejak zaman kerajaan Tarumanegara (Kerajaan Hindu yang berdiri pada abad ke-4 Masehi atau ke-5 Masehi). Pelabuhan ini pada abad ke-12 dikenal pelabuhan lada yang sangat sibuk dan milik kerajaan sunda. Menurut penulis Portugis Tome Pires, kalapa dianggap pelabuhan yang terpenting karena dapat ditempuh dari ibukota kerajaan yang disebut dengan nama Dayo dalam tempo 2 hari. Banyak kapal-kapal asing yang berlabuh disini seperti dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, Timur dan Tengah. Mereka membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, kuda untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu.
Lalu pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16 mulai banyak para penjelajah Eropa (Portugis). Sejarah mencatat bahwa Portugis berhasil membuat perjanjian dagang dengan Kerajaan Sunda pada tahun 1522. Perjanjian tersebut juga memberikan kebebasan bagi Portugis untuk berdagang melalui Sunda Kelapa. Mereka juga mendapat izin untuk membangun gudang sebagai tempat menampung barang dagangannya. Pada tahun 1527, Portugis kembali datang untuk memperpanjang perjanjian, namun saat itu Pelabuhan Sunda Kelapa sudah dikuasai Kesultanan Demak. Tidak seperti Kerajaan Sunda, Kesultanan Demak melihat kedatangan Portugis sebagai ancaman dan pada 22 Juni 1527 pasukan gabungan Demak-Cirebon dibawah pimpinan Fatahillah berhasil mengusir orang Portugis dan merebut kota. Nama sunda kelapa pun menjadi Jayakarta yang artinya “Kota kemenangan atau Kota Kejayaan”.
Di akhir abad ke-16 bangsa Belanda mulai menjelajah dunia. Belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtman tiba pertama kali di pelabuhan sunda kelapa pada tahun 1596 dengan tujuan utama mencari rempah-rempah dan terbentuklah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) lalu pada tahun 1610, Belanda membuat perjanjian dengan penguasa Jayakarta Pangeran Jayawikarta atau Wijayakarta bahwa Belanda diijinkan membuat gudang dan pos dagang di timur muara sungai ciliwung. Namun, karena dibutuhkan tempat mendirikan basis administrasi dan perdagangan VOC maka Jayakarta direbut oleh Belanda dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen pada 30 Mei 1619 dan nama Jayakarta diganti Batavia yakni nama nenek moyang bangsa Belanda, mereka adalah suku Jermanik yang bermukim di tepi sungai Rhein pada zaman kekaisaran Romawi.
Kemudian pada masa pendudukan Dai Nippon yang mulai pada tahun 1942, nama Batavia diubah namanya menjadi Jakarta. Nama Jakarta merupakan kependekan dari kata Jayakarta. Setelah bala tentara Dai Nippon keluar pada tahun 1945, nama ini tetap dipakai oleh Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia
Setelah kemerdekaan, Jakarta merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Statusnya berubah dari kotapraja menjadi tingkat satu (dipimpin oleh Gubernur) pada tahun 1959. Kemudian pada tahun 1961 maka status Jakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Chusus Ibukota (DCI) yang sekarang di eja menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI) dan tetap dipimpin oleh Gubernur.
Kemudian pada masa Orde Baru, nama sunda kelapa dipakai kembali. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No.D.IV a.4/3/74 tanggal 6 Maret 1974, nama sunda kelapa dipakai lagi secara resmi sebagai nama Pelabuhan. Di Pelabuhan Sunda Kelapa kita masih dapat menyaksikan kapal phinisi nusantara, kapal kayu yang hanya dimiliki bangsa Indonesia, satu-satunya di dunia.
Rangkaian pembuatan kapal phinisi melambangkan filosofi bekerja keras, kerja sama, keindahan hingga menghargai alam. Filosofi inilah yang membawa kapal phinisi menjadi warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada 7 Desember 2017 dan penetapan dilakukan dalam Sidang ke-12 Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO di Pulau Jeju, Korea Selatan.
Sangat cukup menjadi alasan kebanggaan kita dari goretan sejarah panjang ini, maka Intuisi saya mengatakan di kawasan ini akan kembali mengalami masa kejayaan dan menjadi kota kemenangan. Tentunya dengan kerja keras dan kerja sama kita semua termasuk peran penting Pemerintah juga.
Perjuangan ini tentu tidak mudah, butuh keseriusan dan komitmen tinggi untuk dapat kembali ke masa kebangkitan Indonesia. Untuk kawan-kawan muda, tentu kita harus memanfaatkan kecanggihan teknologi dan trend prilaku hidup baru di pergaulan dunia maya (sosial media) dengan mengunjungi pelabuhan sunda kelapa dan berswafoto di kapal phinisi nusantara lalu mengunggahnya di sosial medianya. Pastinya ini menjadi bagian mengkampanyekan gerakan cinta tanah air. Seseorang yang cinta tanah air tidak akan melupakan sejarah bangsanya. Dengan kalian mengunggah swafoto di kawasan heritage sunda kelapa kalian adalah pejuang masa kini.
Saya sangat optimis bahwa destinasi wisata yang berumur tua dan orisinil kelak menjadi incaran wisatawan mancanegara. Ini akan menjadi gaya hidup liburan yang unik, fantastis dan bernilai tinggi karenanya memiliki unsur kelangkaan, estetika dan sejarah. Maka di masa yang akan datang saya yakin kalau Pelabuhan Sunda Kelapa akan menjadi Matahari dari Utara.
Memang teknologi dan Industri akan meningkat pesat tetapi orisinalitas akan dirindukan zaman. Maka saya yakin nostalgia kembali ke masa lampau akan menjadi tempat pelabuhan kebatinan bagi para wisatawan mancanegara dan domestik. Tentu hal ini akan menjadi income buat Negara Indonesia.

Tidak ada alasan untuk kalian tidak bangga. Kalian harus datang langsung ke pelabuhan sunda kelapa, rasakan suasana kebatinan ketika kita berada di destinasi ini yang akan membawa kita ke lorong waktu yakni masa lampau (mengenang peristiwa heroik ribuan tahun lalu), kehidupan masa kini (pemandangan kapal phinisi nusantara yang terbuat dari kayu dengan sistem tumpang sirih dan satu-satunya di dunia dengan kegiatan bongkar muat barang menggunakan tenaga manusia) dan juga merancang masa depan akan kejayaan dan kebangkitan Indonesia di usia yang genap 100 tahun pada tahun 2045 (maka pentingnya untuk keberadaan museum Phinisi nusantara yang akan menjadi salah satu kebanggaan generasi Indonesia Emas di mata dunia internasional).
Dan bayangan kemajuan ekonomi masyarakat sekitar pun terlintas dalam pikiran saya, bergerak begitu pesat UMKM-UMKM sekitaran pelabuhan sunda kelapa dengan sajian kulinari dari rempahan nusantara yang menggugah selera. Pastinya ini akan menjadi destinasi ter-asik dan ter-seru. Saya jadi teringat kata manis dari Andy F. Noya “Jangan simpan uang untuk healing ke luar negeri karena di Indonesia negeri sorga, kamu jalan-jalan ke bumi Indonesia saja”.

Baca Juga  Pelantikan Pengurus GAKOPTINDO Masa Bhakti 2025–2030 Resmi Digelar, Fokus Efisiensi Bahan Bakar dan Stabilitas Harga Kedelai

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *