Harga Kedelai Merangkak Naik, Tahu Tempe Terancam Ikut Naik, Dampak Gejolak Global dan Konflik Timur Tengah Mulai Terasa

Kendari, 2 April 2026, TKBM News – Kenaikan harga kedelai impor kembali membayangi stabilitas harga pangan dalam negeri. Komoditas utama bagi produksi tahu dan tempe ini mulai menunjukkan tren peningkatan sejak akhir Februari 2026, seiring tekanan dari dinamika global yang kian kompleks. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan terjadinya penyesuaian harga produk olahan kedelai di tingkat konsumen.
Data dari Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) Jakarta Timur mencatat harga kedelai di tingkat perajin kini berada di kisaran Rp10.400 hingga Rp10.600 per kilogram. Angka ini menunjukkan kenaikan dibandingkan periode sebelumnya yang relatif stabil. Di sejumlah wilayah seperti Jawa Barat harga kedelai 10.400 sampai 10.700 per kilogram bahkan di Sumatra Barat, harga kedelai telah menyentuh Rp12.000 an per kilogram, menandakan tekanan yang tidak merata namun semakin meluas.

Ketua Umum Primkopti Jakarta Timur, Suyanto, menyampaikan bahwa kenaikan ini tidak lepas dari pengaruh berbagai faktor global, mulai dari fluktuasi pasar internasional hingga penguatan dolar Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa meskipun pasokan kedelai dunia, khususnya dari Amerika Serikat, berada dalam kondisi cukup bahkan berlebih, faktor eksternal lain justru menjadi penentu utama lonjakan harga.
Gejolak geopolitik, terutama konflik yang melibatkan negara-negara di Timur Tengah, turut memberikan dampak signifikan. Ketegangan tersebut mendorong kenaikan harga energi dunia, yang berimbas langsung pada biaya logistik dan distribusi. Mengingat kedelai sebagian besar diimpor melalui jalur laut, peningkatan harga bahan bakar menjadi beban tambahan yang tidak dapat dihindari.
Di tengah kondisi tersebut, para perajin tahu dan tempe masih berupaya menahan kenaikan harga jual. Berbagai strategi dilakukan demi menjaga daya beli masyarakat, salah satunya dengan menyesuaikan ukuran produk. Ketebalan tahu dikurangi, begitu pula ukuran tempe yang dibuat lebih kecil, tanpa mengubah harga jual di pasaran.
Langkah ini menjadi solusi sementara di tengah margin keuntungan yang semakin menipis. Namun, para perajin mengakui bahwa ruang bertahan tersebut tidak akan bertahan lama apabila harga kedelai terus meningkat secara signifikan. Jika harga menembus batas tertentu secara merata, intervensi pemerintah menjadi harapan untuk menjaga keberlangsungan usaha dan stabilitas harga pangan.
Dengan situasi yang masih dinamis, masyarakat diimbau untuk memahami kemungkinan adanya perubahan, baik dari sisi harga maupun ukuran produk tahu dan tempe. Ketergantungan terhadap impor menjadikan kedelai sangat rentan terhadap gejolak global, sehingga kewaspadaan dan kesiapan menghadapi perubahan menjadi hal yang penting di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
red : Ki Ageng Sambung Bhadra Nusantara








