DIRGAHAYU MASYARAKAT ADAT NUSANTARA (MATRA) KE-IX TAHUN 2025

DIRGAHAYU MASYARAKAT ADAT NUSANTARA (MATRA) KE-IX TAHUN 2025

Jakarta, 14 Agustus 2025, TKBM News –  Tepat sembilan tahun lalu, pada 13 Agustus 2016, sebuah perkumpulan lahir dari rahim sejarah bangsa. Perkumpulan itu bernama Masyarakat Adat Nusantara (MATRA). Bukan sekadar organisasi, tetapi sebuah wadah besar yang mempersatukan kerajaan, kesultanan, suku, dan komunitas adat dari seluruh penjuru tanah air. Lahirnya MATRA bukan karena kebetulan, melainkan sebagai wujud dari kehendak Gusti Allah—sebuah jawaban atas panggilan zaman, sebuah momentum yang sudah digariskan.

KRT Suyanto, SE.MSi Ketua MATRA DKI Jakarta menyampaikan, bahwa kehadiran MATRA adalah berkah sekaligus amanah. Di tengah derasnya arus globalisasi yang mengikis identitas budaya, MATRA menjadi benteng yang menjaga adat, warisan leluhur, dan nilai-nilai luhur yang membentuk jati diri bangsa. “Ini adalah panggilan hati untuk kembali ke akar, untuk memastikan bahwa budaya kita bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi sumber kekuatan masa depan,” tuturnya.

Lanjut Suyanto, bahwa organisasi ini berdiri sebagai rumah besar adat dan budaya Nusantara. Di sinilah suku-suku yang berbeda, kerajaan yang beragam, serta komunitas adat yang memiliki tradisi masing-masing, saling merangkul dan saling menguatkan. “Keberagaman bukanlah sekat pemisah, melainkan mozaik indah yang jika disatukan membentuk satu gambar utuh bernama persatuan,” pungkasnya.

Sejarah dan Filosofi MATRA

MATRA dibentuk dari kesadaran bahwa budaya dan adat istiadat adalah fondasi peradaban bangsa. Ketika bangsa ini lahir, ia lahir dari rahim kebudayaan yang kaya. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, tiap daerah menyimpan warisan unik—bahasa, pakaian, seni, kuliner, hingga falsafah hidup.

Namun, arus modernisasi yang tak terbendung membuat sebagian warisan itu mulai pudar. Anak-anak muda lebih mengenal budaya asing ketimbang tarian daerahnya sendiri, lebih akrab dengan kuliner cepat saji ketimbang resep warisan nenek moyangnya. MATRA hadir untuk membalik keadaan, untuk menghidupkan kembali kesadaran kolektif bahwa adat adalah identitas, dan identitas adalah harga diri bangsa.

Baca Juga  Pelabuhan Ekspor-Impor Terbesar di Indonesia dalam Kendali Asing - Hutchison Ports Holdimg

Tujuan dan Kiprah MATRA

Perjalanan MATRA selama sembilan tahun diwarnai dengan berbagai program strategis yang menyentuh banyak aspek kehidupan masyarakat.

1. Pelestarian Budaya

MATRA rutin menggelar festival adat, pameran kerajinan tangan, lomba kesenian tradisional, hingga pertemuan pemangku adat dari berbagai daerah. Acara ini menjadi ruang untuk menampilkan keindahan budaya sekaligus mengajarkannya kepada generasi muda. Kegiatan semacam ini tak hanya menjaga keberlanjutan tradisi, tetapi juga memperkuat ikatan antarbudaya di seluruh Nusantara.

2. Pengembangan Ekonomi Kreatif

MATRA percaya, budaya tidak hanya untuk dikenang tetapi juga bisa menjadi sumber kesejahteraan. Produk-produk kreatif berbasis kearifan lokal—mulai dari batik, tenun, ukiran, perhiasan tradisional, kuliner khas daerah, hingga paket wisata adat—didukung penuh. Dengan menggandeng UMKM, pelaku seni, dan pengrajin, budaya menjadi kekuatan ekonomi yang mampu membuka lapangan kerja.

3. Kerja Sama Strategis

MATRA menjalin kemitraan dengan pemerintah pusat dan daerah, lembaga pendidikan, sektor swasta, hingga komunitas internasional. Sinergi ini memastikan bahwa pelestarian adat tidak hanya bergantung pada semangat individu, tetapi juga didukung dengan kebijakan, pendanaan, dan akses pasar yang luas.

4. Penyatuan dan Penguatan Persaudaraan

MATRA menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai suku dan budaya. Melalui forum dialog adat, musyawarah kebudayaan, dan acara kebersamaan, tumbuh rasa saling percaya, menghargai, dan memiliki satu sama lain. Di sinilah nilai gotong royong dan persaudaraan bangsa terjaga.

Keanggotaan yang Inklusif

MATRA membuka pintu bagi siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap budaya Nusantara. Tak hanya bagi keturunan kerajaan dan kesultanan, tetapi juga akademisi, budayawan, seniman, pemerhati budaya, dan masyarakat umum. Di dalam MATRA, semua berdiri sejajar. Yang diutamakan adalah semangat dan kontribusi nyata demi menjaga warisan leluhur.

Baca Juga  JAKARTA DIJAJAH KONTENER KOSONG MILIK ASING Indonesia Jadi Parkiran Logistik Global Tanpa Kedaulatan

Makna MATRA bagi Bangsa

Dalam sembilan tahun perjalanannya, MATRA membuktikan diri sebagai penjaga keberagaman budaya sekaligus benteng identitas bangsa. Di era di mana batas negara semakin kabur dan budaya asing mudah masuk, MATRA mengingatkan kita akan akar yang tak boleh tercabut.

Adat adalah napas kehidupan. Budaya adalah jembatan yang menghubungkan generasi demi generasi. Menjaganya berarti memastikan bahwa anak cucu kita kelak tetap mengenal siapa dirinya dan dari mana ia berasal.

Dirgahayu MATRA ke-IX bukan hanya perayaan usia, melainkan perayaan komitmen. Komitmen untuk terus memelihara adat, memajukan budaya, dan membangun Nusantara yang berdaulat secara kultural.

Adat Lestari, Bangsa Berdaya, Nusantara Jaya

red : Ki Ageng Sambung Bhadra Nusantara